Prof. Dr. Rita Inderawati, M.Pd./ Wakil Dekan I Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Pejaminan Mutu/ Pengamat Pendidikan
Info Sriwijaya, Palembang – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah cara kita mengajar dan belajar bahasa Inggris. Mahasiswa kini dapat menggunakan AI untuk menulis artikel, memperbaiki tata bahasa, merangkum cerita, menafsirkan puisi, dan memperoleh umpan balik dalam hitungan detik. Perkembangan ini membuka banyak peluang, tetapi juga memunculkan pertanyaan penting: jika AI mampu menghasilkan tulisan yang bagus, apa yang masih perlu dipelajari mahasiswa melalui proses membaca, menulis, berdiskusi, dan berinteraksi dengan dosen?
Pertanyaan ini mengajak kita melihat kembali tujuan pendidikan bahasa Inggris. Apakah kita hanya ingin mahasiswa mampu menggunakan bahasa Inggris dengan baik? Tentu tidak. Kita juga ingin mereka berpikir kritis, memahami orang lain, menghargai perbedaan, mempertanyakan informasi, dan bertanggung jawab atas gagasan yang disampaikan.
Inilah pentingnya rehumanizing English Language Education, atau memanusiakan kembali pendidikan bahasa Inggris. Gagasan ini bukan berarti menolak AI, melainkan memastikan bahwa teknologi mendukung pembelajaran tanpa menggantikan proses berpikir manusia.
Sebuah artikel yang tata bahasanya sempurna belum tentu menunjukkan pemahaman yang mendalam. Interpretasi puisi yang meyakinkan belum tentu lahir dari pembacaan yang kritis. Begitu pula tulisan tentang perubahan iklim belum tentu menunjukkan pemahaman terhadap dampaknya bagi masyarakat setempat.
Karena itu, dosen tidak cukup hanya menilai produk akhir. Kita perlu melihat bagaimana mahasiswa membangun gagasan, menggunakan bukti, mempertimbangkan perspektif lain, dan mengambil keputusan. Mahasiswa, misalnya, dapat diminta menjelaskan alasan menerima atau menolak saran AI, memverifikasi informasi, dan menunjukkan perubahan pemikiran selama proses revisi. Persoalannya bukan sekadar apakah mahasiswa mampu menggunakan AI, tetapi apakah mereka tetap belajar dan berpikir ketika menggunakannya.
Sastra memiliki peran penting karena menghadirkan pengalaman manusia, seperti konflik, kehilangan, ketidakadilan, identitas, dan hubungan manusia dengan alam. Melalui cerita dan puisi, mahasiswa dapat mengeksplorasi pengalaman yang berbeda dari kehidupan mereka sendiri dan merefleksikan persoalan yang tidak selalu memiliki jawaban sederhana.
Misalnya, ketika membaca puisi tentang kerusakan lingkungan, mahasiswa tidak hanya mempelajari kosakata dan gaya bahasa. Mereka juga dapat mempertanyakan mengapa manusia merusak alam, siapa yang terdampak, dan apa tanggung jawab kita terhadap lingkungan.
Namun, membaca sastra tidak otomatis mengembangkan empati atau pemikiran kritis. Mahasiswa dapat menerima interpretasi yang diberikan AI tanpa memeriksa teks lebih jauh. Oleh sebab itu, dosen perlu menciptakan aktivitas yang mendorong keterlibatan aktif mahasiswa.
Melalui Reader Response, mahasiswa menghubungkan teks dengan pengalaman pribadi, menyampaikan interpretasi, dan mempertimbangkan sudut pandang yang berbeda. Jika dua mahasiswa memiliki interpretasi yang berbeda terhadap cerita yang sama, dosen dapat meminta keduanya menjelaskan alasan dan bukti yang mendukung pendapat masing-masing.
Dengan demikian, mahasiswa belajar bahwa memahami sastra bukan sekadar menemukan jawaban yang benar, tetapi juga membangun argumentasi, mendengarkan orang lain, dan bersedia meninjau kembali pemikirannya.
Tidak semua pemahaman dan pengalaman emosional mudah diungkapkan melalui kata-kata. Karena itu, Visual Symbol Response dapat melengkapi Reader Response dengan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengekspresikan pemahaman melalui simbol, gambar, dan representasi visual lainnya.
Sebagai contoh, setelah membaca puisi tentang kerusakan lingkungan, mahasiswa dapat menggambar pohon yang sebagian masih hijau dan sebagian lainnya rusak. Gambar tersebut dapat merepresentasikan pertentangan antara kelestarian alam dan tindakan manusia yang merusaknya. Mahasiswa kemudian menjelaskan hubungan gambar tersebut dengan makna puisi.
Dalam proses ini, gambar bukan sekadar hiasan, tetapi bagian dari kegiatan menafsirkan dan mengomunikasikan gagasan. Kedua pendekatan tersebut saling melengkapi. Mahasiswa dapat mendiskusikan interpretasi, mengembangkannya melalui gambar, kemudian menjelaskan kembali maknanya dalam bentuk tulisan. Proses ini memberikan ruang bagi kreativitas sekaligus melatih kemampuan berbahasa dan berpikir kritis. Mahasiswa tidak hanya perlu memahami apa yang dikatakan sebuah karya sastra, tetapi juga mengeksplorasi maknanya bagi diri mereka dan bagaimana makna tersebut dapat dikomunikasikan kepada orang lain.
AI sebagai Mitra Berpikir, Bukan Pemberi Jawaban Akhir. AI dapat dimanfaatkan secara kritis dalam pembelajaran sastra. Setelah membaca teks dan menuliskan interpretasi awal, mahasiswa dapat meminta AI memberikan interpretasi alternatif. Mereka kemudian membandingkan kedua interpretasi tersebut dengan memeriksa bukti tekstual, asumsi, dan perspektif yang digunakan.
Mahasiswa dapat mempertanyakan: Apakah interpretasi AI didukung oleh teks? Apa yang terlewat? Apakah interpretasi awal saya perlu diubah? Apa alasan saya menerima atau menolaknya?
Kegiatan ini menempatkan AI sebagai sumber gagasan yang perlu dievaluasi, bukan sebagai otoritas yang menentukan makna. Dosen juga perlu menilai proses berpikir melalui draf, catatan revisi, diskusi, refleksi, dan tugas mandiri.
Selain itu, mahasiswa harus menggunakan AI secara transparan sesuai dengan kebijakan akademik serta bertanggung jawab atas informasi dan karya yang dihasilkan. Mereka juga perlu menunjukkan kemampuan memahami dan menjelaskan gagasan tanpa sepenuhnya bergantung pada AI. Tujuannya bukan membuat mahasiswa takut menggunakan teknologi, melainkan membantu mereka mengetahui kapan AI bermanfaat, kapan hasilnya perlu diragukan, dan kapan penilaian mandiri sangat diperlukan.
Pendidikan yang memanusiakan manusia tidak seharusnya berhenti pada interpretasi teks dan penulisan artikel. Mahasiswa juga perlu menghubungkan pembelajaran dengan persoalan nyata. Salah satu caranya adalah melalui proyek Podcast for Students’ Voice to Climate Change Education. Dalam proyek ini, mahasiswa menyelidiki isu perubahan iklim menggunakan sumber yang dapat dipercaya, menghubungkan informasi dengan pengalaman lokal, menyusun naskah berbahasa Inggris, dan memproduksi podcast secara kolaboratif.
Sastra dapat menjadi titik awal untuk membahas hubungan manusia dengan alam, kerusakan lingkungan, dan tanggung jawab terhadap generasi mendatang. Melalui Reader Response dan Visual Symbol Response, mahasiswa membangun serta mengekspresikan pemahaman. AI kemudian dapat membantu mereka mengeksplorasi pertanyaan dan memperbaiki naskah, tetapi pemeriksaan fakta dan keputusan akhir tetap menjadi tanggung jawab mahasiswa.
Podcast memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menggunakan bahasa Inggris dalam komunikasi autentik. Mereka tidak hanya menyelesaikan tugas, tetapi juga menyampaikan gagasan kepada audiens dan mengajak orang lain memikirkan persoalan lingkungan.
Proyek ini mengintegrasikan keterampilan berbahasa, pemikiran kritis, kolaborasi, literasi digital, dan literasi iklim. Namun, kita tidak boleh menganggap bahwa membuat podcast otomatis mengubah sikap atau perilaku mahasiswa. Dampaknya perlu dievaluasi melalui kualitas argumentasi, pemahaman isu, ketepatan informasi, dan bentuk partisipasi yang dapat diamati.
Memanusiakan pendidikan bahasa Inggris juga berarti menghargai keberagaman bahasa mahasiswa. Bahasa daerah dan bahasa Indonesia tidak harus ditinggalkan ketika mahasiswa belajar bahasa Inggris. Keduanya dapat menjadi sumber untuk memahami pengalaman, membangun gagasan, dan mengomunikasikan makna.
Dalam pembelajaran perubahan iklim, misalnya, mahasiswa dapat memulai dengan mengidentifikasi perubahan lingkungan di daerah mereka, mengumpulkan pengalaman masyarakat, dan menghubungkannya dengan informasi ilmiah. Selanjutnya, mereka dapat menyampaikan hasil pemikiran tersebut dalam bahasa Inggris kepada audiens yang lebih luas.
Dengan demikian, pengalaman lokal tidak diabaikan, tetapi menjadi dasar bagi komunikasi lintas bahasa dan budaya. AI dapat membantu proses penerjemahan, tetapi hasilnya tetap perlu diperiksa karena makna budaya dan pengalaman lokal tidak selalu dapat diterjemahkan secara tepat. Semua pendekatan tersebut tidak akan banyak berarti jika penilaian hanya berfokus pada produk akhir. Dosen perlu menilai proses dan hasil pembelajaran secara seimbang.
Dalam pembelajaran menulis, mahasiswa dapat menyerahkan draf awal, catatan revisi, dan refleksi penggunaan AI. Dalam pembelajaran sastra, mereka dapat menjelaskan interpretasi dan alasan di baliknya. Dalam proyek podcast, dosen dapat menilai kualitas sumber, argumentasi, kontribusi anggota tim, serta kemampuan mahasiswa menjelaskan isi podcast secara mandiri.
Kita juga perlu membedakan kemampuan mahasiswa dengan bantuan AI dari kemampuan yang dapat mereka tunjukkan tanpa AI. Keduanya penting, tetapi memberikan informasi yang berbeda mengenai perkembangan belajar. Dengan cara ini, keberhasilan pendidikan bahasa Inggris tidak hanya diukur dari seberapa bagus produk yang dihasilkan, tetapi juga dari bagaimana mahasiswa berpikir, belajar, bekerja sama, dan mempertanggungjawabkan gagasannya.
AI mengajak kita memikirkan kembali tujuan pendidikan bahasa Inggris. Ketika teknologi mampu menghasilkan teks yang lancar dan meyakinkan, kemampuan menghasilkan bahasa tidak lagi cukup menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan belajar.
Sastra membuka ruang untuk memahami pengalaman manusia. Reader Response membantu mahasiswa membangun makna, sedangkan Visual Symbol Response memperluas cara mereka mengekspresikan pemahaman. Penggunaan AI secara kritis mendorong mereka mengevaluasi informasi, sementara podcast berbasis Pendidikan Perubahan Iklim menghubungkan pembelajaran dengan komunikasi autentik dan tanggung jawab sosial.
Namun, integrasi semua unsur tersebut tidak otomatis menghasilkan pembelajaran yang humanistik. Keberhasilannya bergantung pada desain pembelajaran, keterlibatan mahasiswa, kualitas penilaian, dan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan secara mandiri.
Pada akhirnya, memanusiakan kembali pendidikan bahasa Inggris berarti memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak menggeser tujuan pendidikan untuk membantu manusia berpikir mandiri, memahami orang lain, membangun makna, dan bertindak secara bertanggung jawab.
AI dapat membantu mahasiswa menulis tentang empati, tetapi mereka tetap perlu belajar memahami pengalaman orang lain. AI dapat menghasilkan argumen tentang keberlanjutan, tetapi mahasiswa tetap perlu memeriksa bukti dan mempertimbangkan tanggung jawab mereka. AI dapat menawarkan interpretasi sastra, tetapi mahasiswa harus tetap aktif dalam proses menemukan dan membangun makna.
Karena itu, pertanyaan terpenting bukan hanya apa yang dapat dilakukan AI untuk pendidikan bahasa Inggris, melainkan juga manusia seperti apa yang ingin kita bantu bentuk melalui pendidikan tersebut. Ketika AI mampu menulis, pendidikan harus membantu manusia berpikir kritis, berempati, membangun makna, dan bertindak secara bertanggung jawab.









