Info Sriwijaya, Palembang, 1 Oktober 2026 — Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Sriwijaya menyelenggarakan Kuliah Umum bertajuk “Palembang and the Malay World: Islam, Intellectual Networks and Cultural Connections” pada Kamis, 1 Oktober 2026. Kegiatan dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting.
Kuliah umum menghadirkan Associate Prof. Dr. Abu Hanifah dari University of Malaya, Malaysia, sebagai narasumber, dengan Rani Oktapiani, M.Pd. sebagai moderator. Kegiatan juga dihadiri oleh Dekan FKIP Universitas Sriwijaya, Dr. Hartono, M.A., serta Koordinator Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sriwijaya, Dr. Hudaidah, M.Pd.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan Ketua Pelaksana Tyas Fernanda, M.Pd., sambutan Koordinator Program Studi Pendidikan Sejarah Dr. Hudaidahm M.Pd, serta sambutan Wakil Dekan I FKIP Universitas Sriwijaya sekaligus pembukaan kegiatan secara resmi, Prof Dr. Rita Inderawati, M.Pd. Setelah doa dan dokumentasi, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh narasumber.
Mengangkat tema “Palembang and the Malay World”, kegiatan ini menjadi ruang akademik untuk membahas posisi Palembang dalam dunia Melayu, terutama melalui keterhubungan Islam, jaringan intelektual, dan relasi kebudayaan. Pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa sejarah Palembang dapat dipahami tidak hanya dalam konteks lokal, tetapi juga dalam jaringan sejarah kawasan Melayu yang lebih luas.
Salah satu materi yang disampaikan menyoroti peran intelektual Palembang melalui sosok ‘Abd al-Samad al-Palimbani. Dalam materi tersebut, ‘Abd al-Samad al-Palimbani disebut lahir sekitar 1704 di Palembang dan meninggalkan Palembang menuju Makkah pada usia sekitar 14 tahun. Ia dipaparkan sebagai salah satu simpul penting dalam jaringan transmisi Jawi, terutama dalam pengajaran teks-teks Arab kepada pelajar Jawi.
Materi juga menyoroti sejumlah karya ‘Abd al-Samad al-Palimbani, yaitu Zuhrat al-Murid (1764), Hidayat al-Salikin (1778), dan Sair al-Salikin (1779–1788). Pembahasan menekankan bahwa proses penerjemahan yang dilakukannya bukan sekadar penerjemahan harfiah. Gagasan-gagasan keislaman dalam teks Arab diadaptasi dan dilokalkan sehingga dapat diterima oleh pembaca di Asia Tenggara. Hal tersebut memperlihatkan bagaimana seorang intelektual yang berasal dari Palembang turut berperan dalam proses transmisi dan pengembangan pengetahuan dalam dunia Melayu-Islam.
Melalui kuliah umum ini, Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sriwijaya memperkuat ruang akademik yang mempertemukan kajian sejarah Palembang dengan perspektif dunia Melayu yang lebih luas. Kehadiran akademisi dari University of Malaya juga membuka ruang pertukaran pengetahuan dan perspektif mengenai jaringan intelektual serta hubungan kebudayaan yang menghubungkan Palembang dengan kawasan Melayu.








