Menulis dengan AI: Meningkatkan atau Melemahkan Keterampilan Menulis Siswa?

- Penulis

Minggu, 23 Agustus 2026 - 09:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Info Sriwijaya, Kecerdasan buatan (AI) telah mengubah cara siswa belajar, berkomunikasi, dan menghasilkan teks akademik dengan pesat. Alat-alat seperti ChatGPT dan aplikasi AI generatif lainnya mampu melakukan curah pendapat (brainstorming) untuk ide, menyusun kerangka tulisan, menyarankan kosakata, memperbaiki tata bahasa, menyempurnakan struktur kalimat, meringkas informasi, serta memberikan masukan terhadap draf tulisan dalam hitungan detik. Bagi siswa yang sedang belajar menulis dalam bahasa Inggris, kemampuan-kemampuan ini bisa sangat menarik karena menulis dalam bahasa kedua atau bahasa asing sering kali melibatkan kesulitan terkait kosakata, tata bahasa, pengorganisasian ide, koherensi, dan rasa percaya diri. Namun, kehadiran AI yang semakin meluas dalam penulisan akademik memunculkan pertanyaan mendasar di dunia pendidikan: Apakah AI benar-benar meningkatkan keterampilan menulis siswa, atau justru secara bertahap melemahkan kemampuan mereka untuk menulis secara mandiri?

Pertanyaan ini tidak dapat dijawab hanya dengan “ya” atau “tidak”. AI dapat berfungsi sebagai sumber belajar yang ampuh, namun juga bisa menjadi pengganti bagi proses kognitif yang justru perlu dikembangkan oleh siswa. Oleh karena itu, nilai edukatif AI sangat bergantung pada bagaimana siswa menggunakannya, tugas apa yang mereka limpahkan kepada AI, dan seberapa besar tanggung jawab intelektual yang tetap mereka pegang selama proses penulisan berlangsung. Jika siswa menggunakan AI untuk mendukung proses berpikir mereka, hal ini dapat meningkatkan perkembangan kemampuan menulis. Sebaliknya, jika mereka menggunakan AI untuk menggantikan proses berpikir, kompetensi menulis mereka bisa jadi justru melemah.

Salah satu argumen terkuat yang mendukung penggunaan AI dalam pembelajaran menulis adalah kemampuannya memberikan bantuan secara langsung dan personal. Di kelas menulis konvensional, seorang guru mungkin harus memberikan masukan kepada puluhan siswa, sehingga sulit untuk segera menanggapi setiap masalah terkait tata bahasa, pemilihan kata, maupun pengorganisasian tulisan. Alat bantu AI dapat memberikan tanggapan instan kepada siswa kapan pun mereka menghadapi kesulitan. Sebagai contoh, seorang siswa mungkin menulis kalimat berikut: “Climate change give many negative impact to human life.” Alih-alih sekadar memperbaiki kalimat tersebut, alat AI dapat menjelaskan bahwa kata kerja “give” harus disesuaikan dengan subjek tunggal “climate change” dan bahwa kata “impact” seharusnya berbentuk jamak dalam konteks ini. Siswa kemudian dapat merevisi kalimat tersebut menjadi: “Climate change has many negative impacts on human life.” Nilai edukatifnya tidak terletak semata-mata pada perolehan kalimat yang sudah diperbaiki, melainkan pada pemahaman mengenai alasan mengapa kalimat aslinya bermasalah.

Perbedaan ini sangatlah penting. AI menjadi bermakna secara edukatif ketika siswa berinteraksi dengan masukan yang diberikan, bukan sekadar menyalinnya. Siswa sebaiknya mengajukan pertanyaan seperti: Mengapa perbaikan ini diperlukan? Apakah ungkapan yang disarankan sesuai dengan maksud saya? Bisakah saya membuat versi lain? Interaksi semacam itu dapat mengubah AI dari sekadar penghasil teks menjadi mitra belajar.

Menulis adalah sebuah proses, bukan sekadar aktivitas tunggal. Proses ini biasanya melibatkan beberapa tahapan, termasuk curah gagasan (brainstorming), perencanaan, penyusunan draf, revisi, penyuntingan, dan pemeriksaan akhir (proofreading). AI berpotensi mendukung siswa pada setiap tahapan tersebut.

Saat melakukan curah gagasan, siswa dapat meminta AI untuk menyarankan berbagai sudut pandang mengenai suatu topik. Sebagai contoh, saat menulis tentang pendidikan perubahan iklim, siswa dapat meminta AI untuk mengidentifikasi argumen yang mungkin terkait dengan kesadaran lingkungan, integrasi kurikulum, keterlibatan siswa, atau persiapan guru. Namun, siswa tidak boleh begitu saja mengadopsi gagasan-gagasan tersebut. Mereka harus mengevaluasi gagasan mana yang relevan dan mengembangkan pandangan mereka sendiri.

Pada tahap perencanaan, AI dapat membantu siswa menyusun gagasan ke dalam kerangka tulisan. Siswa dapat membandingkan berbagai struktur penyusunan dan memutuskan mana yang paling sesuai dengan tujuan mereka. Saat menyusun draf, AI dapat membantu siswa mengidentifikasi kalimat yang kurang jelas atau menyarankan cara alternatif untuk mengungkapkan suatu gagasan. Namun, idealnya, argumen awal tetap harus berasal dari siswa itu sendiri. Selanjutnya, pada tahap revisi, AI dapat memberikan masukan mengenai koherensi, kohesi, transisi, kosakata, dan struktur kalimat. Tahap ini bisa sangat bermanfaat karena siswa dapat membandingkan teks asli mereka dengan revisi yang disarankan, lalu mengambil keputusan secara sadar mengenai bagian mana yang perlu diubah. Terakhir, pada tahap penyuntingan dan pemeriksaan akhir, AI dapat mengidentifikasi masalah tata bahasa, ejaan, tanda baca, dan format penulisan. Dengan demikian, AI berpotensi menjadi bagian dari pendekatan menulis yang berorientasi pada proses. Prinsip pentingnya adalah bahwa AI sebaiknya mendukung berbagai tahapan menulis tanpa mengambil alih keseluruhan proses tersebut.

Keuntungan penting lainnya dari AI adalah potensinya untuk mengurangi kecemasan siswa saat menulis. Siswa yang kurang percaya diri dengan kemampuan bahasa Inggris mereka mungkin ragu untuk mulai menulis karena khawatir melakukan kesalahan tata bahasa atau pemilihan kosakata. AI dapat menciptakan lingkungan yang minim tekanan di mana siswa dapat bereksperimen dengan bahasa. Sebagai contoh, seorang siswa mungkin menulis sebuah paragraf dan meminta AI untuk: “Tolong identifikasi tiga masalah paling penting dalam paragraf saya, tetapi jangan menulis ulang paragraf tersebut untuk saya.” Jenis instruksi (prompt) seperti ini secara pedagogis lebih produktif dibandingkan: “Tuliskan paragraf yang lebih baik untuk saya.” Instruksi pertama mempertahankan tanggung jawab siswa untuk melakukan revisi. Instruksi kedua justru dapat memicu ketergantungan.

Baca Juga :  Ketika Bumi Kehilangan Suara: Mengapa Pendidikan Perubahan Iklim Harus Dimulai dari Sekolah

Oleh karena itu, AI dapat membantu siswa menjadi lebih percaya diri jika digunakan untuk mendukung eksperimen dan pembelajaran, bukan sekadar untuk menghilangkan kesulitan. Tingkat kesulitan tertentu diperlukan dalam pembelajaran, dan pengembangan kemampuan menulis menuntut siswa untuk terlibat secara aktif dalam menghadapi kesulitan tersebut.

AI juga dapat mendukung pengembangan kosakata. Siswa dapat meminta sinonim, kolokasi, ungkapan akademis, atau penjelasan mengenai perbedaan antara kata-kata yang serupa. Misalnya, seorang siswa mungkin bertanya tentang perbedaan antara kata significant, important, considerable, dan substantial. Namun, pembelajaran kosakata tidak terjadi begitu saja hanya karena AI menyediakan daftar sinonim. Siswa perlu memahami konteks, register (tingkat formalitas bahasa), makna, dan kolokasi. Kata significant, misalnya, mungkin tepat digunakan dalam tulisan akademis pada konteks di mana kata big akan terdengar terlalu informal. Oleh karena itu, siswa sebaiknya menelaah contoh-contoh yang ada dan membuat keputusan sendiri. Hal ini kembali menunjukkan bahwa AI tidak seharusnya menggantikan penilaian linguistik siswa. Sebaliknya, AI sebaiknya menyediakan sumber daya yang memungkinkan siswa mengembangkan kemampuan penilaian tersebut.

Terlepas dari berbagai manfaat tersebut, kekhawatiran terbesar terkait penulisan dengan bantuan AI adalah ketergantungan yang berlebihan. Ketika siswa terbiasa meminta AI untuk menghasilkan ide, menulis paragraf, merevisi argumen, dan menyusun draf akhir, mereka mungkin perlahan kehilangan kesempatan untuk berlatih menulis secara mandiri. Kompetensi menulis dikembangkan melalui keterlibatan kognitif yang berulang. Siswa perlu mengalami proses dalam menentukan apa yang ingin mereka sampaikan, mengatur alur tulisan, memilih kata yang tepat, menyusun kalimat, dan merevisi argumen mereka. Jika AI mengerjakan semua tugas tersebut, siswa mungkin menjadi efisien dalam menghasilkan teks tanpa serta-merta menjadi penulis yang lebih baik. Hal ini menciptakan perbedaan penting antara sekadar menghasilkan teks dan pengembangan kemampuan menulis. Seorang mahasiswa dapat menyerahkan esai berkualitas tinggi yang dihasilkan oleh AI, namun sebenarnya belum tentu mampu menulis esai setara secara mandiri. Dalam situasi seperti ini, kualitas karya akhir tidak serta-merta mencerminkan kompetensi menulis mahasiswa tersebut. Persoalan ini menantang pendekatan tradisional dalam penilaian kemampuan menulis. Jika pengajar hanya menilai hasil akhir, akan semakin sulit untuk memastikan apakah teks tersebut benar-benar mencerminkan kemampuan mahasiswa itu sendiri.

Kekhawatiran lain adalah potensi hilangnya identitas dan suara khas penulis. Tulisan akademis yang baik tidak sekadar benar secara tata bahasa; tulisan tersebut mencerminkan interpretasi, perspektif, penalaran, dan posisi intelektual penulisnya. AI generatif cenderung menghasilkan bahasa yang halus dan relatif baku. Jika mahasiswa menerima teks buatan AI tanpa merevisinya secara kritis, tulisan mereka mungkin tampak canggih secara tata bahasa namun terasa generik dari segi intelektual.

Bayangkan dua mahasiswa yang menulis tentang pendidikan perubahan iklim. Keduanya mungkin menggunakan AI untuk menyusun esai mereka. Teks yang dihasilkan bisa jadi memuat ungkapan, argumen, dan pola organisasi yang serupa. Tulisan tersebut mungkin kompeten secara teknis, namun di manakah suara khas mahasiswa itu sendiri? Hal ini sangat penting dalam pendidikan tinggi karena universitas diharapkan dapat membentuk mahasiswa menjadi pemikir yang mandiri. Tulisan akademis seharusnya tidak hanya menunjukkan apa yang diketahui mahasiswa, tetapi juga bagaimana cara mereka berpikir. Oleh karena itu, penulisan yang dibantu oleh AI harus tetap mempertahankan tiga elemen berikut: gagasan mahasiswa, penilaian mahasiswa, dan suara mahasiswa. AI dapat memberikan saran atau masukan, namun mahasiswa harus tetap menjadi pihak yang mengambil keputusan akhir dalam penulisan tersebut. Menariknya, kemunculan AI justru dapat menjadikan kemampuan berpikir kritis semakin penting, bukan sebaliknya.

AI mampu menghasilkan informasi dengan sangat cepat, namun kecepatan tidak menjamin akurasi. Respons yang dihasilkan AI bisa saja mengandung kesalahan faktual, interpretasi yang keliru, informasi usang, atau referensi yang memerlukan verifikasi. Oleh karena itu, siswa perlu belajar cara mengevaluasi hasil kerja AI secara kritis. Sebagai contoh, jika AI menyajikan lima argumen yang mendukung suatu posisi tertentu, siswa tidak boleh serta-merta menganggap kelima argumen tersebut valid. Mereka sebaiknya mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut:

– Apakah informasi tersebut akurat?
-Bukti apa yang mendukung klaim tersebut?
-Apakah sumbernya tepercaya?
-Apakah argumen tersebut relevan dengan topik saya?
-Apakah bukti yang ada benar-benar mendukung kesimpulan tersebut?
-Adakah sudut pandang lain yang terlewatkan oleh AI?
Pertanyaan-pertanyaan ini mengubah penggunaan AI menjadi sebuah aktivitas literasi kritis.
Dengan kata lain, siswa tidak hanya perlu belajar cara memberikan instruksi (prompt) kepada AI, tetapi juga harus belajar cara mempertanyakan hasil kerja AI.

Penggunaan AI juga memunculkan pertanyaan serius terkait integritas akademik. Terdapat perbedaan signifikan antara menggunakan AI untuk menyempurnakan tulisan sendiri dan menyerahkan tulisan buatan AI sebagai karya pribadi. Sebagai contoh, meminta AI untuk mengidentifikasi kesalahan tata bahasa dalam paragraf asli karya siswa dapat dianggap sebagai bentuk dukungan pembelajaran. Sebaliknya, meminta AI untuk membuat esai secara utuh lalu menyerahkannya tanpa adanya kontribusi intelektual yang berarti merupakan hal yang sangat berbeda.

Perbedaan ini menunjukkan perlunya kebijakan yang lebih jelas dari institusi pendidikan mengenai penggunaan AI yang diperbolehkan dan yang tidak. Alih-alih sekadar melarang penggunaan AI, institusi pendidikan sebaiknya mempertimbangkan untuk mengembangkan literasi AI serta pedoman penggunaan yang bertanggung jawab. Siswa perlu memahami:
-kapan penggunaan AI dianggap tepat;
-kapan pengungkapan penggunaan AI diperlukan;
-cara memverifikasi informasi yang dihasilkan AI;
-cara melindungi kekayaan intelektual dan data pribadi;
-cara menjaga integritas akademik; serta
-cara mempertahankan tanggung jawab atas hasil akhir karya tersebut.
Tujuannya bukanlah mencetak siswa yang sama sekali tidak menggunakan AI, melainkan membentuk siswa yang mampu menggunakan AI secara bertanggung jawab dan sesuai dengan kaidah akademik.

Baca Juga :  Mendidik Guru di Era AI: Tantangan Baru LPTK Indonesia

Kemunculan AI juga mengubah peran guru menulis. Guru tidak bisa lagi hanya berfokus pada perbaikan tata bahasa dan penilaian hasil akhir karya siswa. Mereka kini semakin dituntut untuk mengajarkan siswa cara bekerja dengan AI secara kritis. Sebagai contoh, alih-alih hanya meminta siswa mengumpulkan esai, guru dapat meminta mereka untuk menyerahkan:
-gagasan awal mereka; draf awal mereka;
-umpan balik AI yang dipilih;
-evaluasi mereka terhadap umpan balik tersebut;
-draf revisi mereka; dan
-refleksi singkat yang menjelaskan apa yang mereka ubah dan alasannya.

Pendekatan ini membuat proses penulisan menjadi terlihat jelas. Hal ini juga mengubah penilaian dari yang berorientasi pada produk menjadi berorientasi pada proses. Seorang siswa yang mengumpulkan esai sempurna namun tidak dapat menjelaskan argumen atau revisinya patut dipertanyakan. Sebaliknya, siswa yang menunjukkan perkembangan bermakna dari draf awal hingga versi akhir mungkin telah mengalami proses pembelajaran yang sesungguhnya, meskipun teks akhirnya masih memiliki beberapa kekurangan. Oleh karena itu, prinsip utamanya sederhana:
AI seharusnya membuat siswa lebih banyak berpikir, bukan justru mengurangi aktivitas berpikir mereka.
Jika AI memberikan jawaban lengkap dan siswa hanya menyalinnya, peluang belajar akan berkurang. Jika AI memberikan perspektif alternatif yang harus dievaluasi oleh siswa, peluang belajar justru dapat meningkat.

Demikian pula, jika AI memperbaiki setiap kesalahan tata bahasa tanpa penjelasan, siswa mungkin akan menjadi bergantung pada perbaikan tersebut. Namun, jika AI mengidentifikasi pola kesalahan dan meminta siswa untuk memperbaikinya, siswa dapat secara bertahap mengembangkan kesadaran berbahasa yang lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa efektivitas AI sangat bergantung pada rancangan perintah (prompt) dan rancangan pedagogisnya.

Guru dapat mendorong siswa untuk menggunakan perintah seperti: “Berikan umpan balik terhadap argumen saya, tetapi jangan menulis ulang argumen tersebut.”

“Identifikasi kelemahan dalam penalaran saya dan jelaskan mengapa hal-hal tersebut dianggap sebagai kelemahan.”

“Ajukan tiga pertanyaan yang dapat membantu saya mengembangkan paragraf ini.”

“Sarankan perspektif alternatif yang patut saya pertimbangkan.”

“Identifikasi pola tata bahasa yang sering saya gunakan secara keliru.”

Perintah-perintah ini memosisikan AI sebagai sarana pendukung (scaffold) dalam pembelajaran, bukan sebagai pengganti proses pembelajaran itu sendiri.

Daripada mempertanyakan apakah AI baik atau buruk untuk menulis, pendidik harus mempertimbangkan konsep penulisan yang ditambah AI. Dalam model ini, AI dan penulis manusia memiliki peran yang berbeda namun saling melengkapi. Penulis manusia menyediakan: ide; pengalaman; argumen; nilai-nilai; interpretasi; keputusan; dan keputusan akhir. Sementara itu, AI dapat menyediakan: saran; masukan; alternatif bahasa; kemungkinan organisasi; pertanyaan; penjelasan; dan dukungan revisi. Oleh karena itu, teks akhir harus muncul dari interaksi antara pemikiran manusia dan bantuan teknologi, bukan dari substitusi teknologi untuk pemikiran manusia. Model ini sangat relevan dalam pendidikan bahasa Inggris. Siswa perlu mengembangkan kompetensi linguistik dan kemampuan komunikatif. AI dapat membantu mengatasi masalah yang pertama, namun hal yang kedua pada dasarnya harus tetap bersifat manusiawi.

Kecerdasan buatan mengubah tulisan akademis dengan cara yang tidak dapat diubah begitu saja. Siswa sudah memiliki akses ke alat canggih yang mampu menghasilkan dan mengubah teks. Oleh karena itu, upaya untuk sepenuhnya mengecualikan AI dari pendidikan menulis mungkin kurang produktif dibandingkan mengajari siswa cara menggunakannya secara bertanggung jawab.

Tantangan pendidikan sebenarnya bukanlah “Bagaimana kita dapat mencegah siswa menggunakan AI?” melainkan “Bagaimana kita dapat memastikan bahwa penggunaan AI berkontribusi terhadap pembelajaran yang sesungguhnya?” AI dapat meningkatkan keterampilan menulis siswa ketika memberikan umpan balik, menstimulasi ide, mendukung revisi, memperluas sumber daya linguistik, dan mendorong refleksi. Pada saat yang sama, AI dapat menghambat perkembangan menulis ketika siswa menjadi bergantung padanya, menyerahkan hak cipta mereka, menghindari kesulitan dalam menulis, atau mengirimkan teks yang dihasilkan AI tanpa keterlibatan intelektual yang berarti.

Pada akhirnya, isu yang paling penting adalah agensi. Siswa harus tetap bertanggung jawab atas apa yang mereka tulis, mengapa mereka menulisnya, dan bagaimana mereka merevisinya. AI dapat menyarankan, mengoreksi, mempertanyakan, dan menantang—tetapi AI tidak boleh menggantikan tanggung jawab siswa untuk berpikir. Oleh karena itu, masa depan pendidikan menulis tidak boleh didasarkan pada pilihan antara tulisan manusia dan kecerdasan buatan. Sebaliknya, pemerintah harus fokus pada pengembangan penulis yang kritis, beretika, dan melek AI yang tahu cara menggunakan teknologi tanpa mengorbankan kemandirian intelektual mereka.

Siswa penulis yang paling sukses di era AI belum tentu siswa yang dapat menghasilkan teks terbaik dengan AI. Siswalah yang dapat berpikir secara mendalam, mengevaluasi secara kritis, menulis secara mandiri, dan menggunakan AI secara strategis jika hal tersebut benar-benar memberikan nilai tambah. SDGs terkait: SDG 4 – Pendidikan Berkualitas (utama)
SDG 9 – Industri, Inovasi, dan Infrastruktur
SDG 8 – Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
SDG 10 – Berkurangnya Kesenjangan

Berita Terkait

Mendidik Guru di Era AI: Tantangan Baru LPTK Indonesia
Ketika Bumi Kehilangan Suara: Mengapa Pendidikan Perubahan Iklim Harus Dimulai dari Sekolah
Menatap Juli 2026: Lembaran Hari Penting, dari Apresiasi Nasional hingga Kepedulian Global
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 09:12 WIB

Menulis dengan AI: Meningkatkan atau Melemahkan Keterampilan Menulis Siswa?

Rabu, 5 Agustus 2026 - 05:19 WIB

Mendidik Guru di Era AI: Tantangan Baru LPTK Indonesia

Jumat, 31 Juli 2026 - 21:37 WIB

Ketika Bumi Kehilangan Suara: Mengapa Pendidikan Perubahan Iklim Harus Dimulai dari Sekolah

Selasa, 30 Juni 2026 - 19:55 WIB

Menatap Juli 2026: Lembaran Hari Penting, dari Apresiasi Nasional hingga Kepedulian Global

Berita Terbaru

Nasional

Wagub Sumsel Cik Ujang Studi Tiru Penerbitan IPR ke NTB

Kamis, 20 Agu 2026 - 23:48 WIB