Info Sriwijaya, Palembang – Kehidupan kampus ternyata menyimpan banyak cerita yang tak selalu terlihat di balik aktivitas perkuliahan. Persoalan ekonomi, keluarga, perjuangan membiayai pendidikan, hingga dilema dosen dalam menyeimbangkan aturan akademik dengan suara hati menjadi realitas yang diangkat Haryadi dalam kumpulan cerpen Antara Kampus dan Doa Ibu.
Kumpulan cerpen tersebut dibedah dalam kegiatan bedah buku yang digelar di Aula Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tridinanti, Sabtu (12/9/2026).
Kegiatan dibuka langsung oleh Dekan FKIP Universitas Tridinanti, Jenni Elvinna M., M.Pd. Dalam sambutannya, Jenni mengaku senang FKIP Universitas Tridinanti dapat menjadi tempat berlangsungnya kegiatan yang mempertemukan dunia akademik dan sastra.
“FKIP Unanti sangat senang dan bahagia dapat dijadikan kegiatan bedah buku. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut,” ujar Jenni.
Bedah buku menghadirkan empat narasumber yang memberikan perspektif berbeda terhadap karya Haryadi. Ketua HISKI Komisariat Sumatera Selatan, Ernalida, M.Pd., Ph.D., mengulas kekuatan kebahasaan yang terdapat dalam kumpulan cerpen tersebut.
Menurut Ernalida, Haryadi memiliki penguasaan bahasa yang kuat atau command of language yang sophisticated. Meski demikian, bahasa yang digunakan tetap mampu mempertahankan kesederhanaan sekaligus menghadirkan kedalaman makna.
“Bahasa yang digunakan menunjukkan penguasaan yang kuat, tetapi tetap sederhana dan memiliki kedalaman makna,” jelasnya.
Sementara itu, Dr. Yenny Puspita, M.Pd., dosen Universitas PGRI, menyoroti sejumlah kelebihan buku tersebut. Ia menilai tema yang diangkat memiliki kedekatan dengan realitas kehidupan pembaca.
Menurut Yenny, menariknya buku tersebut terletak pada kemampuannya menghadirkan kehidupan kampus dari dua perspektif, yakni mahasiswa dan dosen. Selain itu, nilai religius serta suara penulis yang empatik membuat persoalan yang diangkat terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Yang menarik adalah kedekatan tema dengan realitas. Kita bisa melihat kehidupan kampus dari perspektif mahasiswa sekaligus dosen,” kata Yenny.
Perspektif sosial kemudian diperdalam Sekretaris HISKI Sumsel, Linny Oktavianti, M.Pd. Ia menilai mahasiswa dalam cerpen Haryadi tidak sekadar ditampilkan sebagai individu yang menjalani aktivitas akademik, tetapi sebagai manusia yang berhadapan dengan persoalan ekonomi, keluarga, lingkungan sosial, harapan, dan perjuangan hidup.
Menurut Linny, pendekatan tersebut membuat kumpulan cerpen Antara Kampus dan Doa Ibu tidak hanya berbicara tentang kehidupan kampus, tetapi juga merepresentasikan realitas sosial yang dihadapi mahasiswa.
Ia pun menutup pemaparannya dengan sebuah pantun yang mendapat perhatian peserta.
Ubi jalar diolah jadi keripik,
Bernilai tambah rasanya pun apik.
Cerpen Pak Haryadi unik dan menarik,
Banyak pelajaran yang dipetik.
Bedah buku tersebut turut dihadiri tamu istimewa, Dr. Sri Parwanti, M.Pd., yang merupakan dosen, penulis, sekaligus kolega Haryadi. Kisah Sri Parwanti menjadi salah satu cerita yang diangkat dalam kumpulan cerpen tersebut.
Sri Parwanti mengaku merasa tersanjung karena kisahnya dapat diabadikan dalam sebuah karya sastra. Ia juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Ananda Haryadi yang telah mengangkat kisah tersebut serta konsisten menerbitkan sejumlah buku.
Sementara itu, Nyayu Lulu Nadya, M.Pd., melihat karya tersebut dari perspektif sosiologi dan psikologi. Menurutnya, cerpen-cerpen dalam buku tersebut tidak hanya menyajikan rangkaian peristiwa, tetapi juga memperlihatkan hubungan antara individu dan lingkungan sosial serta pergulatan psikologis yang dialami para tokohnya.
Persoalan keluarga, kehidupan akademik, kondisi ekonomi, hubungan sosial, dan pilihan hidup menjadi bagian yang saling berkaitan dalam cerita.
Mengabadikan Perjuangan yang Sering Tak Terlihat
Haryadi mengatakan, ide penulisan Antara Kampus dan Doa Ibu berangkat dari pengamatannya terhadap kehidupan mahasiswa dan dosen.
Ia melihat banyak perjuangan berlangsung di lingkungan kampus, tetapi tidak semuanya terlihat oleh orang lain. Ada mahasiswa yang harus kuliah sambil bekerja, menghadapi persoalan ekonomi dan keluarga. Di sisi lain, ada dosen yang harus menjaga keseimbangan antara aturan akademik dan suara hati.
“Ada mahasiswa yang kuliah sambil bekerja, menghadapi persoalan ekonomi dan keluarga. Ada juga dosen yang harus menjaga keseimbangan antara aturan akademik dan nurani,” ungkap Haryadi.
Berbagai realitas tersebut kemudian diolah menjadi cerita agar tidak berhenti sebagai pengalaman personal, tetapi dapat menjadi refleksi bagi pembaca.
Melalui Antara Kampus dan Doa Ibu, Haryadi menghadirkan kampus sebagai ruang kemanusiaan. Di dalamnya terdapat orang-orang yang belajar, mengajar, bekerja, berjuang, menghadapi konflik, sekaligus membawa doa dan harapan untuk masa depan.
Bedah buku tersebut pun berkembang menjadi ruang dialog mengenai peran sastra dalam membaca kehidupan. Cerpen tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga dapat menjadi medium untuk memahami realitas sosial, psikologi manusia, nilai religius, dan dinamika pendidikan.

Kegiatan yang berlangsung di Aula FKIP Universitas Tridinanti itu sekaligus mempertemukan dunia sastra dan akademik dalam satu ruang. Pesan yang mengemuka, di balik mahasiswa yang duduk di bangku kuliah dan dosen yang berdiri di depan kelas, terdapat kisah perjuangan yang belum tentu diketahui banyak orang.
Di antara perjuangan tersebut, selalu ada harapan dan doa ibu yang diam-diam menyertai perjalanan.
Kegiatan tersebut turut diiringi penandatanganan kerja sama antara Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Sumatera Selatan dan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Tamansiswa (Unanti).
Kerja sama tersebut diharapkan dapat memperkuat sinergi dalam pengembangan pendidikan, kebahasaan, dan kesusastraan, sekaligus membuka peluang kolaborasi dalam berbagai kegiatan akademik dan kelembagaan.









