Memotret Perilaku Menyimpang, Memahami Kemanusiaan: Respons Kritis dan Emosional dalam Pendidikan Karakter

- Penulis

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 22:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis: Prof. Dr. Rita Inderawati, M.Pd.

Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan, & Penjaminan Mutu/FKIP UNSRI/ Pengamat Pendidikan

Info Sriwijaya – Kita hidup di zaman di mana kisah-kisah kejahatan tampaknya datang hampir setiap hari. Pembunuhan, korupsi, penipuan, kekerasan, eksploitasi, pelecehan, tipu daya, dan bentuk-bentuk kesalahan lainnya muncul di surat kabar, laporan televisi, media sosial, podcast, film, dan percakapan di sekitar kita. Beberapa kisah begitu mengganggu sehingga naluri pertama kita adalah untuk berpaling. Yang lain memicu kemarahan, ketakutan, jijik, atau bahkan keputusasaan. Kita mungkin bertanya pada diri sendiri: Mengapa kita harus terus membaca kisah-kisah seperti itu? Mengapa mengekspos siswa pada kisah-kisah tentang kekejaman manusia ketika pendidikan seharusnya menumbuhkan karakter yang baik?

Saya berpendapat sebaliknya. Mungkin kita perlu membaca kisah-kisah kesalahan dengan lebih hati-hati—bukan untuk memuliakan kejahatan, bukan untuk men sensationalisasi korban, dan tentu saja bukan untuk meniru penjahat, tetapi untuk memahami bagaimana manusia dapat sampai pada pilihan-pilihan yang merusak dan apa yang dapat diajarkan pilihan-pilihan itu kepada kita tentang menjadi manusia yang lebih baik.

Di sinilah pendidikan sastra dan bahasa memperoleh tujuan yang lebih dalam. Sebuah cerita tentang kejahatan tidak selalu merupakan pelajaran tentang kejahatan. Cerita tersebut dapat menjadi pelajaran tentang kemanusiaan.
Masalah krusialnya bukanlah sekadar cerita apa yang dibaca siswa, tetapi bagaimana mereka menanggapi cerita tersebut.

Bagi saya, perbedaan ini menjadi semakin penting dalam pendidikan sastra. Sebuah teks sastra, narasi berita, kisah kejahatan nyata, atau bahkan cerita yang beredar melalui media digital dapat menjadi bermakna secara pendidikan ketika siswa didorong untuk menanggapi secara kritis dan emosional. Cerita memberikan pengalaman; tanggapan memberikan kerja intelektual dan etis.

Ini sangat penting karena kejahatan jarang menyatakan dirinya sebagai kejahatan di awal cerita. Kejahatan muncul melalui pilihan, keadaan, hubungan, peluang, rasionalisasi, kegagalan penilaian, penyalahgunaan kekuasaan, dan terkadang keputusan yang tampaknya biasa saja. Memahami proses ini bukanlah untuk membenarkannya. Ini adalah untuk mengembangkan kemampuan mengenali bagaimana kesalahan dibangun.

Baca Juga :  Ketika Bahasa Bertemu Sastra: Tokoh, Karakter, dan Perjalanan Menjadi Manusia

Ketika siswa saya terlibat dengan cerita tentang kesalahan manusia, saya tidak ingin mereka berhenti pada pernyataan, “Orang itu jahat.” Penilaian seperti itu mungkin dapat dipahami secara moral, tetapi secara pendidikan tidak lengkap. Saya ingin mereka bertanya: Apa yang terjadi? Bagaimana itu terjadi? Mengapa itu terjadi? Bagaimana orang tersebut membenarkan tindakannya? Siapa yang terpengaruh? Apa yang bisa mencegahnya? Apa yang diungkapkan hal ini tentang perilaku manusia? Dan, yang terpenting, apa yang harus saya pertimbangkan kembali tentang diri saya dan masyarakat tempat saya tinggal?

Pertanyaan-pertanyaan ini dapat dikembangkan melalui tujuh bentuk respons pembaca: membayangkan, menggambarkan, menjelaskan, menafsirkan, menghubungkan, terlibat, dan menilai.

Empat yang pertama—memahami, menggambarkan, menjelaskan, dan menafsirkan—dapat mempertajam pemikiran kritis siswa. Tiga berikutnya—menghubungkan, terlibat, dan menilai—dapat memperdalam respons emosional mereka dan mendorong mereka menuju tindakan positif.

Proses dimulai dengan memahami. Sebelum siswa menilai suatu tindakan kriminal, mereka perlu membangun pemahaman tentang apa yang sebenarnya telah mereka temui. Membayangkan mengharuskan mereka untuk memahami situasi, tokoh, peristiwa, hubungan, dan masalah utama. Ini adalah tindakan intelektual untuk membentuk representasi awal cerita dalam pikiran seseorang. Seorang siswa mungkin mulai menyadari bahwa kejahatan bukanlah peristiwa terisolasi, melainkan interaksi kompleks antara orang, keadaan, motivasi, dan konsekuensi.

Kemudian datanglah deskripsi. Siswa mengidentifikasi apa yang mereka lihat dalam teks atau narasi dan mendukung pengamatan mereka dengan bukti. Siapa yang melakukan apa? Pilihan apa yang dibuat? Konsekuensi apa yang terjadi? Bahasa apa yang mengungkapkan sikap tertentu? Detail apa yang menunjukkan manipulasi, ketakutan, keserakahan, kemarahan, keputusasaan, atau penyalahgunaan kekuasaan? Deskripsi tampak sederhana, tetapi mendisiplinkan pembaca untuk membedakan antara apa yang sebenarnya disajikan teks dan apa yang hanya diasumsikan oleh pembaca.

Baca Juga :  Kabut Asap di Langit Palembang: Karhutla, Kesehatan Warga Sekolah, dan Ancaman Learning Loss

Perbedaan ini sangat penting di era informasi yang salah dan cerita kejahatan yang sensasional. Siswa perlu mengetahui perbedaan antara bukti dan spekulasi. Mereka perlu belajar bahwa kepastian emosional tidak sama dengan kepastian faktual.

Respon ketiga, penjelasan, membawa siswa lebih dalam. Mereka beralih dari apa yang terjadi ke mengapa hal itu mungkin terjadi. Mengapa tokoh tersebut membuat pilihan itu? Faktor sosial, psikologis, interpersonal, atau situasional apa yang berkontribusi pada peristiwa tersebut? Apa peran kekuasaan, rasa takut, keserakahan, kemarahan, kesempatan, atau tekanan sosial? Penjelasan tidak berarti pembenaran. Memahami mengapa sesuatu terjadi tidak membuat tindakan tersebut dapat diterima. Bahkan, kemampuan untuk menjelaskan kesalahan tanpa membenarkannya adalah bentuk penting dari kematangan kritis.

Terakhir, interpretasi meminta siswa untuk melampaui peristiwa langsung dan mempertimbangkan makna cerita tersebut. Apa yang diungkapkan kejahatan tersebut tentang sifat manusia?Kisah-kisah mengenai perbuatan keliru manusia dapat menjadi sarana yang ampuh untuk pendidikan karakter, asalkan siswa dibimbing untuk meresponsnya alih-alih sekadar menyerapnya begitu saja. Proses menggagas, mendeskripsikan, menjelaskan, dan menafsirkan akan mengasah kemampuan berpikir kritis; sementara itu, upaya membangun keterhubungan, keterlibatan, dan penilaian akan memperdalam empati, kesadaran etis, serta kapasitas untuk bertindak secara positif. Dengan demikian, respons pembaca membawa siswa beralih dari ranah pemikiran ke perasaan, dan dari perasaan menuju pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

Karakter yang memiliki cela tidak harus dijadikan panutan; karakter tersebut bisa menjadi peringatan, cerminan, atau pelajaran. Tujuannya bukanlah mengajarkan perbuatan keliru semata-mata demi pengetahuan itu sendiri, melainkan membantu siswa memahami sisi kelam kemanusiaan tanpa harus menirunya. Ketika sastra memampukan siswa untuk mempertanyakan, berempati, menilai, dan menentukan pilihan secara berbeda, kegiatan membaca menjadi lebih dari sekadar aktivitas akademis—ia menjadi ajang latihan untuk menjadi manusia seutuhnya.

Berita Terkait

Kabut Asap di Langit Palembang: Karhutla, Kesehatan Warga Sekolah, dan Ancaman Learning Loss
Ketika Bahasa Bertemu Sastra: Tokoh, Karakter, dan Perjalanan Menjadi Manusia
Bedah Buku Antara Kampus dan Doa Ibu, Potret Perjuangan di Balik Kehidupan Akademik
Ketika Asap Memasuki Ruang Kelas: Pendidikan yang Tak Boleh Ikut Tercekik
Menulis dengan AI: Meningkatkan atau Melemahkan Keterampilan Menulis Siswa?
Mendidik Guru di Era AI: Tantangan Baru LPTK Indonesia
Ketika Bumi Kehilangan Suara: Mengapa Pendidikan Perubahan Iklim Harus Dimulai dari Sekolah
Menatap Juli 2026: Lembaran Hari Penting, dari Apresiasi Nasional hingga Kepedulian Global
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 22:21 WIB

Memotret Perilaku Menyimpang, Memahami Kemanusiaan: Respons Kritis dan Emosional dalam Pendidikan Karakter

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:00 WIB

Kabut Asap di Langit Palembang: Karhutla, Kesehatan Warga Sekolah, dan Ancaman Learning Loss

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 21:18 WIB

Ketika Bahasa Bertemu Sastra: Tokoh, Karakter, dan Perjalanan Menjadi Manusia

Minggu, 13 September 2026 - 07:15 WIB

Bedah Buku Antara Kampus dan Doa Ibu, Potret Perjuangan di Balik Kehidupan Akademik

Selasa, 8 September 2026 - 23:35 WIB

Ketika Asap Memasuki Ruang Kelas: Pendidikan yang Tak Boleh Ikut Tercekik

Berita Terbaru

Uncategorized

Ketika Langit Menangis dalam Kabut Asap

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB