oleh: Prof. Dr. Rita Inderawati, M.Pd./Wakil Dekan 1 FKIP UNSRI/Pengamat Pendidikan
Info Sriwijaya – Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam cara kita mencoba memahami orang lain. Kita mengamati apa yang mereka katakan, apa yang mereka lakukan, bagaimana mereka menanggapi kesulitan, bagaimana mereka memperlakukan orang lain, dan pilihan yang mereka buat. Dari fragmen-fragmen ini, kita mulai membangun pemahaman tentang siapa mereka. Kita menyebut seseorang murah hati, egois, berani, tidak jujur, penyayang, atau kejam. Namun karakter tidak pernah sesederhana satu kata sifat. Karakter terungkap secara bertahap melalui pilihan, konflik, hubungan, kesalahan, dan konsekuensi. Menariknya, sastra melakukan hal yang persis sama. Melalui bahasa, sastra menciptakan karakter manusia yang berbicara, berjuang, membuat keputusan, gagal, berubah, atau menolak untuk berubah. Meskipun fiktif, pengalaman mereka dapat menjadi sangat nyata bagi pembaca.
Dalam keterlibatan saya yang panjang dengan sastra dalam pembelajaran bahasa Inggris, saya telah melihat bahwa karakter sastra tidak boleh diperlakukan hanya sebagai objek analisis teks. Mahasiswa tidak bertemu dengan karakter hanya untuk mengidentifikasi apakah karakter itu baik atau buruk, statis atau dinamis, protagonis atau antagonis. Mereka bertemu dengan karakter untuk berpikir tentang manusia—dan akhirnya tentang diri mereka sendiri. Tokoh sastra dapat menjadi cermin, jendela, atau bahkan peringatan. Tokoh tersebut dapat mencerminkan sesuatu yang familiar bagi pembaca, membuka jendela menuju kehidupan yang berbeda dari kehidupan pembaca sendiri, atau memperingatkan pembaca tentang jalan yang dapat mengarah pada konsekuensi yang tidak diinginkan.
Inilah mengapa bahkan tokoh yang bermasalah secara moral pun dapat memiliki nilai pendidikan yang sangat besar. Tokoh yang tidak jujur dapat mengajarkan kejujuran, bukan karena mahasiswa harus meniru tokoh tersebut, tetapi karena mereka dapat meneliti konsekuensi dari ketidakjujuran. Tokoh yang egois dapat merangsang refleksi tentang kemurahan hati. Tokoh yang kejam dapat membuat belas kasihan terlihat dengan menunjukkan ketiadaannya. Tokoh yang penakut dapat membantu pembaca memahami makna keberanian. Tokoh yang gagal terkadang dapat mengajarkan lebih banyak daripada tokoh yang berhasil karena kegagalan menciptakan kesempatan untuk bertanya mengapa kegagalan itu terjadi dan apa yang bisa dilakukan secara berbeda. Oleh karena itu, kekuatan pendidikan sastra tidak bergantung pada kesempurnaan moral tokoh-tokohnya. Itu bergantung pada kualitas respons pembaca.
Wawasan ini telah menjadi inti dari pekerjaan saya dengan sastra dalam pendidikan bahasa. Saya selalu memandang sastra sebagai ruang di mana para pembelajar secara aktif menanggapi karakter, peristiwa, konflik, dan nilai-nilai, alih-alih hanya menerima interpretasi yang telah ditentukan sebelumnya. Pekerjaan saya di bidang pengajaran bahasa Inggris melalui sastra dan respons pembaca telah membawa saya pada satu keputusan bahwa membaca sebagai sebuah proses di mana siswa bergerak melampaui pemahaman tentang apa yang terjadi dalam sebuah cerita menuju pertimbangan tentang apa arti cerita tersebut bagi mereka. Dalam penelitian yang melibatkan God Sees the Truth, but Waits karya Leo Tolstoy, misalnya, respons mahasiswa terhadap tokoh protagonis terhubung dengan pemahaman moral dan perasaan mereka sendiri; 98% mahasiswa melaporkan bahwa perilaku tokoh utama memengaruhi karakter mereka. Temuan seperti itu penting bukan karena sastra secara otomatis membuat mahasiswa menjadi lebih baik secara moral, tetapi karena menunjukkan kemungkinan sastra menjadi ruang untuk refleksi tentang nilai-nilai dan perilaku seseorang.
Pergerakannya halus tetapi kuat: mahasiswa pertama-tama membaca karakter, kemudian menanggapi karakter, dan akhirnya mulai membaca diri mereka sendiri melalui karakter tersebut.
Pada awalnya, mahasiswa mungkin hanya bertanya, Apa yang dilakukan tokoh tersebut? Pertanyaan selanjutnya menjadi, Mengapa tokoh tersebut melakukannya? Kemudian muncullah penilaian: Apakah tokoh tersebut benar? Lebih penting lagi, pembaca pada akhirnya mungkin bertanya, Apa yang akan saya lakukan? Dan mungkin pertanyaan yang paling transformatif adalah, Pernahkah saya berperilaku seperti tokoh ini? Apa yang saya rasakan kalau saya menjadi tokoh cerita itu? Pada saat itu, cerita tersebut bukan lagi hanya tentang orang lain. Tokoh sastra tersebut telah memasuki ruang moral dan pribadi pembaca sendiri.
Inilah mengapa respons pembaca penting. Seorang pembaca dapat setuju dengan tokoh tersebut, tidak setuju dengan tokoh tersebut, mengagumi tokoh tersebut, menolak tokoh tersebut, bersimpati dengan tokoh tersebut, atau tetap ragu-ragu tentang tokoh tersebut. Semua respons ini dapat menjadi produktif secara intelektual ketika mahasiswa didorong untuk menjelaskan dan merefleksikannya. Tugas dosen bukanlah untuk memberitahu mahasiswa apa yang harus mereka pikirkan tentang suatu tokoh, tetapi untuk menciptakan pertanyaan yang memungkinkan respons yang bijaksana. Bukti apa dalam cerita yang membuat Anda berpikir demikian? Mengapa Anda bersimpati dengan tokoh ini? Apa yang tidak Anda setujui? Apa yang dapat Anda pelajari dari tokoh ini? Dan mungkin yang terpenting, apa yang seharusnya tidak Anda pelajari dari karakter ini? * Pertanyaan terakhir itu sangat penting dalam pendidikan karakter. Belajar dari sastra bukan berarti meniru karakter sastra. Itu berarti menafsirkan mereka secara kritis.
Bahasa memungkinkan proses ini terjadi karena karakter itu sendiri dibangun melalui bahasa. Kata-kata, keheningan, pengulangan, nada bicara, pilihan ungkapan, dan interaksi seorang tokoh dengan orang lain—semuanya berkontribusi pada bagaimana pembaca memandang tokoh tersebut. Perhatikan perbedaan antara tokoh yang berkata, ” Aku melakukan apa yang harus kulakukan ,” dengan tokoh lain yang berkata, ” Aku tahu itu salah, tapi aku tetap melakukannya. ” Tindakannya mungkin serupa, namun bahasanya membuka kemungkinan penafsiran yang berbeda mengenai kesadaran, tanggung jawab, dan posisi moral tokoh tersebut. Melalui detail linguistik semacam itu, mahasiswa dapat belajar bahwa apa yang dikatakan seseorang tidak selalu sekadar mengungkapkan jati diri mereka yang sebenarnya; terkadang, ucapan itu justru menyembunyikan, membenarkan, atau menegosiasikan citra diri yang ingin mereka tunjukkan kepada orang lain.
Hal ini menjadikan sastra sangat berharga dalam pendidikan bahasa. Bahasa bukan sekadar sistem tata bahasa dan kosakata. Bahasa juga merupakan sarana bagi manusia untuk membangun identitas, mengungkapkan nilai-nilai, menegosiasikan hubungan, serta mengungkapkan atau menyembunyikan niat. Sastra menyediakan lingkungan yang kaya di mana pembelajar dapat mengamati proses-proses tersebut.
Karya saya yang melibatkan respons terhadap simbol visual semakin memperluas pemahaman ini. Siswa tidak selalu dapat mengungkapkan penafsiran mereka tentang suatu tokoh secara paling efektif melalui respons tertulis yang konvensional. Sebuah simbol, gambar, objek, atau representasi visual terkadang mampu mengungkapkan pemahaman yang sulit ditangkap hanya dengan kata-kata. Jembatan yang runtuh dapat melambangkan hubungan yang rusak; pintu yang terkunci bisa menyimbolkan keterasingan emosional; bayangan dapat mewakili rasa bersalah; dan pohon berakar kuat bisa menandakan ketangguhan. Respons semacam itu menunjukkan bahwa proses pemaknaan tidak terbatas pada bentuk-bentuk linguistik. Pembelajar dapat beralih dari kata-kata ke gambar dan sebaliknya, sembari membangun penafsiran yang semakin kompleks mengenai tokoh dan pengalaman mereka.
Namun, terdapat perbedaan penting antara penokohan (characterization) dan karakter (character). Penokohan merupakan bagian dari teks sastra: yaitu cara penulis membangun sosok fiksi melalui bahasa, tindakan, deskripsi, dialog, konflik, dan narasi. Sementara itu, karakter—dalam pengertian pendidikan—adalah milik pembelajar itu sendiri. Karakter berkaitan dengan nilai-nilai dan disposisi yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, mengambil keputusan, dan bertindak. Jembatan penghubung antara keduanya adalah respons.
Dosen tidak bisa begitu saja mentransfer kebajikan tokoh fiksi ke dalam kepribadian mahasiswa. Teks sastra pun tidak dapat secara otomatis membentuk karakter yang baik. Sastra mampu menciptakan ruang di mana pembelajar diperhadapkan pada pilihan dan konsekuensi, merasakan emosi, mempertanyakan nilai-nilai, mempertimbangkan tindakan alternatif, serta mengaitkan pengalaman orang lain dengan pengalaman mereka sendiri. Pembentukan karakter tidak muncul semata-mata dari paparan, melainkan dari keterlibatan dan refleksi.
Mungkin inilah sebabnya sastra tetap penting, bahkan di era yang didominasi oleh media digital dan bentuk komunikasi yang berubah dengan cepat. Kita hidup di dunia di mana orang semakin sering terpapar pada berbagai cerita—tidak hanya dalam novel dan cerita pendek, tetapi juga dalam film, iklan, unggahan media sosial, testimoni, siniar (podcast), video, dan narasi buatan yang dirancang untuk audiens tertentu. Cerita membentuk apa yang diperhatikan, dikagumi, dan ditakuti orang, serta apa yang mereka yakini sebagai hal yang mungkin terjadi. Oleh karena itu, kemampuan membaca karakter secara kritis bukan sekadar keterampilan sastra; ini adalah keterampilan hidup.
Mahasiswa perlu belajar untuk menyelami sebuah cerita tanpa menjadi tawanan cerita tersebut. Mereka perlu berempati tanpa serta-merta menyetujui, memahami tanpa harus meniru, dan merespons secara emosional tanpa mengabaikan penilaian kritis. Mereka perlu menyadari bahwa karakter yang meyakinkan belum tentu merupakan karakter yang baik, karakter yang sukses belum tentu menjadi teladan yang patut dicontoh, dan cerita yang memikat tidak secara otomatis mencerminkan kebenaran.
Hal ini membawa kita kembali pada hubungan terdalam antara bahasa, sastra, dan karakter manusia. Seorang penulis menggunakan bahasa untuk menciptakan karakter. Pembaca merespons karakter tersebut. Respons itu memunculkan penafsiran. Penafsiran mengundang refleksi. Refleksi dapat memengaruhi nilai dan pilihan. Dan pilihan-pilihan yang diambil berulang kali seiring berjalannya waktu turut membentuk karakter seseorang.
Dengan demikian, prosesnya bergerak dari penokohan menuju karakter.
Sebuah karakter bermula sebagai kata-kata di atas halaman. Kata-kata itu berubah menjadi tindakan dalam imajinasi pembaca. Tindakan-tindakan tersebut memicu pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu mengarah pada refleksi. Refleksi dapat berujung pada sebuah pilihan. Dan pilihan-pilihan tersebut secara bertahap dapat membentuk karakter.
Inilah sebabnya saya tidak memandang sastra semata-mata sebagai sarana pengajaran bahasa. Sastra memungkinkan bahasa bersinggungan dengan kehidupan. Sastra memberikan kesempatan bagi mahasiswa/siswa untuk menjumpai kompleksitas manusia sebelum mereka menghadapi kompleksitas tersebut dalam diri mereka sendiri maupun di dunia di sekitar mereka. Tokoh yang tidak jujur dapat mengajarkan kejujuran. Tokoh yang egois dapat membangkitkan kemurahan hati. Tokoh yang penakut dapat memamerkan keberanian. Tokoh yang rapuh dapat mengajarkan ketangguhan. Tokoh yang memiliki ambiguitas moral dapat mengajarkan kemampuan menilai. Dan terkadang, tokoh yang gagal dapat memberi kita pelajaran lebih banyak daripada tokoh yang berhasil.
Oleh karena itu, tujuan terdalam dari pendidikan sastra bukan sekedar mencetak siswa yang mampu mengenali tokoh, melainkan siswa yang mampu membaca karakter—baik dalam cerita, pada orang lain, maupun, pada akhirnya, dalam diri mereka sendiri.
Di situlah bahasa bertemu dengan sastra.
Dan di situlah sastra bertemu dengan proses pembentukan diri manusia.








