Ketika Bumi Kehilangan Suara: Mengapa Pendidikan Perubahan Iklim Harus Dimulai dari Sekolah

- Penulis

Jumat, 31 Juli 2026 - 21:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Dr. Rita Inderawati, M.Pd.

Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Penjaminan Mutu

Info Sriwijaya,  “Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur kita. Kita meminjamnya dari anak cucu kita.” Ungkapan ini semakin terasa ironis ketika melihat kenyataan hari ini. Banjir datang lebih sering, suhu udara terus meningkat, musim menjadi sulit diprediksi, dan kebakaran hutan maupun kekeringan semakin meluas. Namun, di tengah berbagai peringatan ilmiah tersebut, perubahan iklim masih sering dipandang sebagai isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia dianggap persoalan para ilmuwan, pemerintah, atau organisasi internasional, padahal dampaknya telah hadir di halaman rumah, ruang kelas, bahkan di meja makan kita.

Pertanyaannya, mengapa ketika bumi “berteriak”, manusia justru semakin sulit mendengarnya?

Salah satu penyebabnya adalah cara kita mendidik generasi muda. Pendidikan selama ini lebih banyak mengajarkan apa yang harus diketahui, tetapi belum cukup mendorong apa yang harus dilakukan. Siswa mengenal istilah efek rumah kaca, emisi karbon, dan pemanasan global melalui buku pelajaran. Mereka mampu menjawab soal ujian dengan benar, tetapi belum tentu memahami mengapa suhu di sekolah terasa semakin panas atau mengapa hujan datang dengan intensitas yang berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Pengetahuan berhenti sebagai hafalan, bukan sebagai kesadaran.

Di sinilah letak persoalan mendasarnya. Krisis iklim bukan sekadar krisis lingkungan, melainkan juga krisis pendidikan.

Selama bertahun-tahun, pendidikan lingkungan sering ditempatkan sebagai materi tambahan, bukan sebagai kompetensi utama yang membentuk karakter peserta didik. Padahal, perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan. Ia adalah realitas hari ini. Laporan-laporan ilmiah menunjukkan bahwa peningkatan suhu global, cuaca ekstrem, penurunan kualitas udara, hingga hilangnya keanekaragaman hayati merupakan konsekuensi nyata dari aktivitas manusia. Jika sekolah masih mengajarkan perubahan iklim hanya sebagai teori, maka pendidikan sedang kehilangan kesempatan emas untuk membentuk generasi yang mampu bertindak.

Sekolah seharusnya menjadi tempat pertama anak belajar bahwa menjaga bumi bukanlah slogan, melainkan kebiasaan. Pendidikan perubahan iklim tidak cukup dilakukan melalui ceramah atau membaca buku. Ia harus hadir dalam bentuk pengalaman belajar yang nyata. Ketika siswa diminta mengamati kondisi lingkungan sekolah, menghitung penggunaan plastik sekali pakai di kantin, menanam pohon, menghemat energi, atau memproduksi podcast tentang solusi perubahan iklim, mereka tidak hanya belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga belajar menjadi warga negara yang bertanggung jawab.

Baca Juga :  Mendidik Guru di Era AI: Tantangan Baru LPTK Indonesia

Di era digital, pendidikan perubahan iklim juga tidak bisa dilepaskan dari perkembangan teknologi. Ironisnya, generasi muda menghabiskan berjam-jam setiap hari di media sosial, tetapi hanya sedikit konten yang benar-benar mengajak mereka memahami persoalan lingkungan secara kritis. Teknologi yang seharusnya menjadi alat penyebar pengetahuan justru lebih sering dipenuhi hiburan tanpa makna. Di sinilah sekolah perlu mengambil peran sebagai pengarah, bukan sebagai penonton.

Media digital seperti podcast, video edukasi, dan platform pembelajaran berbasis proyek memberikan peluang besar untuk mengubah cara belajar. Ketika siswa menjadi pembuat konten, mereka dipaksa untuk membaca, berdiskusi, memverifikasi informasi, menyusun argumen, dan menyampaikan pesan kepada masyarakat. Proses tersebut jauh lebih bermakna dibandingkan sekadar menghafal definisi perubahan iklim dari buku teks. Mereka belajar bahwa pengetahuan memiliki tujuan sosial: menggerakkan perubahan.

Namun, pendidikan perubahan iklim juga menghadapi tantangan baru, yaitu hadirnya Artificial Intelligence (AI). Banyak pihak khawatir AI akan membuat siswa semakin bergantung pada teknologi dan kehilangan kemampuan berpikir. Kekhawatiran ini tidak sepenuhnya salah. Akan tetapi, masalah sebenarnya bukan terletak pada AI, melainkan pada bagaimana pendidikan mengajarkan penggunaannya. AI seharusnya menjadi alat untuk memperluas wawasan, bukan menggantikan proses berpikir. Sekolah harus mengajarkan siswa bertanya dengan lebih baik, memeriksa fakta, membandingkan berbagai sumber, dan menggunakan AI secara etis. Dengan demikian, teknologi menjadi mitra dalam belajar, bukan pengganti nalar manusia.

Lebih dari itu, pendidikan perubahan iklim perlu membangun optimisme. Terlalu banyak narasi tentang bencana yang justru membuat generasi muda merasa tidak berdaya. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Membawa botol minum sendiri, memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik, menanam pohon, atau membuat kampanye digital tentang lingkungan mungkin tampak sederhana. Namun, ketika jutaan pelajar melakukan hal yang sama, dampaknya akan menjadi luar biasa.

Baca Juga :  Mendidik Guru di Era AI: Tantangan Baru LPTK Indonesia

Karena itu, sekolah tidak cukup menjadi tempat mentransfer ilmu. Sekolah harus menjadi ruang lahirnya solusi. Guru tidak lagi hanya berperan sebagai penyampai materi, melainkan fasilitator yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan persoalan nyata di masyarakat. Kurikulum tidak cukup mengejar capaian akademik, tetapi juga harus membentuk karakter yang peduli terhadap keberlanjutan bumi.

Pada akhirnya, perubahan iklim bukan sekadar persoalan lingkungan. Ia adalah ujian bagi kualitas pendidikan kita. Jika sekolah berhasil melahirkan generasi yang mampu berpikir kritis, berkolaborasi, memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab, dan berani mengambil tindakan nyata, maka pendidikan telah menjalankan fungsi terbesarnya: menyiapkan masa depan.

Bumi sesungguhnya tidak pernah kehilangan suara. Alam telah berbicara melalui banjir, kekeringan, gelombang panas, dan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi. Yang hilang adalah kesediaan manusia untuk mendengarkannya. Oleh karena itu, pendidikan perubahan iklim harus dimulai dari sekolah, karena di sanalah lahir generasi yang kelak menentukan apakah bumi akan tetap menjadi rumah yang layak dihuni atau hanya menjadi warisan penuh penyesalan bagi anak cucu kita. Pendidikan bukan lagi sekadar investasi bagi masa depan manusia, tetapi juga investasi bagi masa depan bumi itu sendiri. . “Ketika pendidikan berhasil melahirkan generasi yang peduli terhadap bumi, sesungguhnya sekolah tidak hanya mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga menjaga keberlanjutan kehidupan dunia. Pendidikan perubahan iklim bukan sekadar bagian dari kurikulum, melainkan fondasi untuk mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan masa depan yang lebih hijau, tangguh, serta berkeadilan bagi generasi mendatang.”

#FKIPREPUTASI #FKIPBERDAMPAK #FKIPGOGREEN #FKIPUNSRI #SDGs4 #SDGs13 #SDGs17

Berita Terkait

Mendidik Guru di Era AI: Tantangan Baru LPTK Indonesia
Menatap Juli 2026: Lembaran Hari Penting, dari Apresiasi Nasional hingga Kepedulian Global
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 5 Agustus 2026 - 05:19 WIB

Mendidik Guru di Era AI: Tantangan Baru LPTK Indonesia

Jumat, 31 Juli 2026 - 21:37 WIB

Ketika Bumi Kehilangan Suara: Mengapa Pendidikan Perubahan Iklim Harus Dimulai dari Sekolah

Selasa, 30 Juni 2026 - 19:55 WIB

Menatap Juli 2026: Lembaran Hari Penting, dari Apresiasi Nasional hingga Kepedulian Global

Berita Terbaru