Info Sriwijaya, Palembang – 11 September 2026, Ruang kelas Program Doktor Pendidikan Universitas Sriwijaya tidak hanya menjadi tempat menyampaikan gagasan, tetapi juga menjadi ruang untuk menguji argumentasi, mempertanyakan asumsi, dan menimbang bukti. Hal tersebut terlihat dalam perkuliahan Kajian Kritis (Critical Inquiry) ketika tiga mahasiswa program doktor mempresentasikan kajian mereka dengan mengangkat persoalan aktual dalam pendidikan bahasa Inggris di Indonesia.
Ketiga mahasiswa tersebut adalah Rizky Dwi Amina, Ridha Ilma, dan Rahma Dianti. Ketiganya mengangkat isu yang berbeda, tetapi memiliki satu benang merah: bagaimana pendidikan bahasa Inggris harus dibaca secara kritis, berbasis bukti, dan tidak berhenti pada apa yang tampak di permukaan.
Rizky Dwi Amina, dosen UIN Raden Fatah Palembang, mengangkat kajian “Literacy Issues in English Language Education in Indonesia.” Kajian tersebut menyoroti sejumlah persoalan literasi di Indonesia, antara lain capaian literasi, kesenjangan antara kebijakan dan praktik pembelajaran, disparitas wilayah, literasi digital, serta kompetensi dan kesiapan guru.
Pembahasan Rizky kemudian diarahkan lebih tajam pada pertanyaan tentang di mana sesungguhnya persoalan literasi berada—apakah pada kebijakan, guru, sekolah, kelas, peserta didik, atau justru pada interaksi berbagai faktor tersebut.
Prof. Sofendi memberikan penekanan bahwa kajian literasi perlu ditarik lebih dekat ke praktik pembelajaran bahasa Inggris.
“Kajian literasi akan menjadi lebih kuat ketika kita tidak berhenti pada persoalan kebijakan dan data makro, tetapi melihat bagaimana persoalan tersebut benar-benar hadir di ruang kelas. Di situlah kita dapat memahami hubungan antara kebijakan, kompetensi guru, konteks sekolah, dan praktik literasi bahasa Inggris.”
Sementara itu, Ridha Ilma, M.Pd., mahasiswa Program Doktor Pendidikan Universitas Sriwijaya sekaligus dosen UIN Raden Fatah Palembang, mempresentasikan “The Development of English Literacy in Language Learning in Indonesia: A Critical Review.”
Ridha mengkaji perkembangan literasi bahasa Inggris melalui tiga ranah utama, yakni media, materials, dan models. Kajian tersebut memperlihatkan munculnya berbagai inovasi seperti generative AI dan multimodal media, inovasi bahan ajar, Project-Based Learning (PjBL), blended learning, dan Communicative Language Teaching (CLT).
Namun, kajian Ridha tidak sekadar menunjukkan bahwa inovasi pembelajaran semakin berkembang. Ia justru mempertanyakan seberapa kuat bukti yang mendukung klaim keberhasilan berbagai inovasi tersebut. Sejumlah penelitian yang ditelaah masih menunjukkan keterbatasan, seperti sampel kecil, penggunaan self-report, tidak adanya kelompok pembanding, dan kecenderungan hasil yang sangat positif.
Prof. Soni Mirizon menilai perspektif kritis tersebut penting agar inovasi pendidikan tidak dinilai hanya berdasarkan kebaruannya.
“Kita jangan sampai menganggap bahwa sesuatu yang baru otomatis lebih baik. PjBL, CLT, blended learning, maupun teknologi memiliki kekuatan masing-masing. Yang penting adalah kesesuaiannya dengan tujuan pembelajaran, karakteristik peserta didik, konteks, serta bukti mengenai dampaknya terhadap pembelajaran.”
Menurut Prof. Soni, penelitian ke depan juga perlu melihat bagaimana berbagai pendekatan tersebut berinteraksi dalam kondisi kelas yang nyata, bukan hanya membandingkan keberhasilan masing-masing model secara terpisah.
Persoalan lain muncul dalam presentasi Rahma Dianti, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Universitas Sriwijaya sekaligus dosen Universitas Tridinanti. Rahma mengangkat tema “ICT Literacy in Education: Concept, Urgency, and Media Development.”
Rahma menguraikan bahwa literasi TIK bukan sekadar kemampuan menggunakan perangkat digital. Mengacu pada kerangka yang digunakan dalam kajiannya, ICT literacy mencakup lima proses, yaitu access, manage, integrate, evaluate, dan create.
Dalam konteks pendidikan bahasa Inggris, pembahasan tersebut membawa diskusi pada persoalan yang lebih fundamental: apakah guru dan mahasiswa benar-benar sedang mengembangkan literasi TIK, atau hanya sedang menggunakan teknologi?
Rahma juga mengaitkan literasi TIK dengan UNESCO ICT-CFT, TPACK, dan SAMR, termasuk bagaimana teknologi semestinya dipilih berdasarkan tujuan pembelajaran, bukan karena sekadar mengikuti perkembangan teknologi.
Dalam diskusi, Dr. Rita Inderawati menekankan bahwa guru yang literat secara digital bukanlah guru yang menggunakan teknologi paling banyak.
“Guru yang literat secara digital bukan guru yang menggunakan teknologi sebanyak-banyaknya. Yang lebih penting adalah kemampuan guru menentukan teknologi apa yang paling tepat, kapan digunakan, bagaimana digunakan, untuk siapa digunakan, dan bahkan kapan teknologi tidak perlu digunakan.”
Dr. Rita juga mengaitkan gagasan tersebut dengan praktik pembelajaran bahasa Inggris yang dikembangkannya. Mahasiswa tidak lagi hanya ditempatkan sebagai konsumen konten digital, misalnya sekadar menyimak podcast, tetapi diarahkan untuk menciptakan podcast.
“Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pendengar podcast. Mereka harus sampai pada tahap create—menciptakan podcast mereka sendiri. Dengan demikian, teknologi menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berpikir, berkolaborasi, berkomunikasi, dan menghasilkan karya.”
Praktik tersebut memperlihatkan pergeseran dari consuming to creating. Mahasiswa menggunakan teknologi untuk mencari dan mengevaluasi informasi, menyusun gagasan, menggunakan bahasa Inggris, bekerja secara kolaboratif, hingga menghasilkan produk yang memiliki tujuan dan audiens. Gagasan ini sejalan dengan tahap create dalam ICT literacy yang menjadi salah satu fokus presentasi Rahma.
Kelas Doktoral sebagai Ruang Menguji Gagasan. Ketiga presentasi tersebut memperlihatkan karakter perkuliahan Kajian Kritis yang tidak menempatkan presentasi sebagai akhir dari proses belajar. Presentasi justru menjadi titik awal untuk menguji argumentasi melalui pertanyaan, tanggapan, kritik, dan dialog akademik.
Dalam proses tersebut, Prof. Sofendi, Prof. Soni, dan Dr. Rita berperan sebagai fasilitator akademik yang tidak hanya memberikan penilaian terhadap isi presentasi, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk memperjelas konsep, memeriksa bukti, menemukan asumsi, mempertimbangkan alternatif penjelasan, dan merumuskan persoalan yang masih terbuka.
Pendekatan ini menjadikan mahasiswa doktoral tidak sekadar mengetahui apa yang dikatakan penelitian, tetapi belajar mempertanyakan mengapa penelitian mengatakan demikian, seberapa kuat buktinya, apa yang mungkin diasumsikan, dan apa yang masih perlu diteliti.
Dari persoalan literasi, perkembangan model dan inovasi pembelajaran, hingga pemanfaatan teknologi, ketiga kajian tersebut akhirnya bertemu pada satu pesan penting: pendidikan bahasa Inggris tidak cukup hanya membutuhkan inovasi, tetapi membutuhkan kemampuan untuk menilai inovasi secara kritis.
Dengan demikian, ruang kelas doktoral bukan hanya tempat menghasilkan presentasi akademik, melainkan juga menjadi laboratorium gagasan—tempat calon doktor belajar mengubah informasi menjadi argumentasi, argumentasi menjadi pertanyaan, dan pertanyaan menjadi peluang penelitian baru. SDGs terkait: SDGs 4








