Info Sriwijaya, Palembang, 3 Oktober 2026 — “Berapa jam guru mengajar anak-anak kita setiap hari, dan berapa jam algoritma mengajar mereka?” Pertanyaan reflektif tersebut menjadi salah satu pesan kuat yang disampaikan Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Penjaminan Mutu FKIP Universitas Sriwijaya, Prof. Dr. Rita Inderawati, M.Pd., saat membuka Kontes Literasi Matematika XIV, Kontes Literasi Sains XI, Kontes Literasi Bahasa XI, Kontes Literasi Finansial III, serta Kontes Literasi Sejarah dan Budaya II Tingkat Nasional Tahun 2026.
Menurut Prof. Rita, pertanyaan tersebut penting direnungkan di tengah derasnya arus informasi digital yang setiap hari hadir dalam kehidupan anak-anak dan generasi muda. Kemudahan memperoleh informasi melalui teknologi, menurutnya, tidak serta-merta membuat seseorang menjadi literat.
“Memiliki akses terhadap informasi belum tentu berarti memiliki literasi,” tegasnya dalam sambutan pembukaan kegiatan yang diselenggarakan Departemen Pendidikan MIPA FKIP Universitas Sriwijaya tersebut.
Kontes Literasi Nasional FKIP UNSRI 2026 dilaksanakan secara luring di Aula Lantai 3 FKIP UNSRI, Jalan Ogan, dan secara daring melalui Zoom. Kegiatan dihadiri Kepala Departemen Pendidikan MIPA FKIP UNSRI, Dr. Ketang Wiyono, M.Pd., Ketua Panitia Elvira Destiansari, S.Pd., M.Pd., para dosen, guru pendamping, panitia, dan peserta dari berbagai daerah. Para juri Kontes Literasi Matematika misalnya adalah para Guru Besar, seperti Prof. Zulkardi, Prof. Ratu Ilma, dan Prof. Cecil, termasuk koorprodi Pendidikan Matematika Dr. Weni.
Dalam sambutannya, Prof. Rita menyoroti fenomena yang belakangan dikenal dengan istilah “brain rot”. Ia menjelaskan bahwa istilah tersebut tidak digunakan dalam pengertian medis, tetapi untuk menggambarkan kecenderungan mengonsumsi konten digital yang cepat, dangkal, dan terus-menerus sehingga ruang untuk fokus, membaca secara mendalam, merenung, dan berpikir kritis berpotensi semakin menyempit.
Namun, Rita tidak menempatkan teknologi sebagai sesuatu yang harus dijauhi.
Sebaliknya, ia mengajak peserta untuk menempatkan teknologi secara proporsional. Teknologi harus menjadi alat yang dikendalikan manusia, bukan sebaliknya.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika pendidikan memasuki era Artificial Intelligence (AI). AI dapat menyediakan informasi dan jawaban dengan sangat cepat, tetapi kecepatan tersebut tidak boleh menggantikan kemampuan manusia untuk menilai, mempertanyakan, dan merefleksikan informasi.
Karena itu, Rita mengajak para peserta untuk membangun tiga kebiasaan penting:
Berpikir sebelum menerima,
memeriksa sebelum percaya,
dan merefleksikan sebelum bertindak.
Penyelenggaraan lima kontes literasi dalam satu rangkaian memperlihatkan bahwa literasi memiliki dimensi yang luas. Kelima bidang tersebut—matematika, sains, bahasa, finansial, serta sejarah dan budaya—merepresentasikan kemampuan yang dibutuhkan generasi masa kini untuk memahami persoalan kehidupan secara lebih komprehensif.
Literasi bukan sekadar kemampuan mengetahui atau menghafal informasi. Literasi mencakup kemampuan untuk memahami, menganalisis, memecahkan masalah, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan menggunakan pengetahuan secara bermakna.
Karena itu, kompetisi literasi seharusnya tidak hanya dilihat dari siapa yang memperoleh nilai tertinggi. Yang lebih penting adalah proses yang mendorong peserta untuk membaca, berpikir, bertanya, mengolah informasi, dan menciptakan makna.
Menghadapi perkembangan teknologi dan AI, Rita mengingatkan bahwa generasi muda perlu memiliki posisi yang lebih aktif terhadap informasi.
“Jangan hanya menjadi konsumen informasi. Jadilah pembaca yang kritis, pemikir yang mendalam, dan pencipta pengetahuan.”
Pesan tersebut menjadi inti dari relevansi Kontes Literasi Nasional FKIP UNSRI 2026. Di tengah lingkungan digital yang menawarkan informasi tanpa batas, peserta didik perlu memiliki kemampuan untuk memilah informasi, mempertanyakan kebenarannya, memahami konteks, serta menggunakan informasi secara bertanggung jawab. Dengan demikian, literasi bukan sekadar keterampilan akademik, melainkan kompetensi kehidupan.
Penyelenggaraan Kontes Literasi Nasional 2026 sekaligus menegaskan peran FKIP UNSRI dalam memperkuat budaya literasi di tingkat nasional. Melalui lima bidang kompetisi tersebut, FKIP menghadirkan ruang bagi peserta untuk mengembangkan potensi akademik sekaligus kemampuan berpikir kritis, kreatif, reflektif, dan komunikatif.
Wakil Dekan I FKIP UNSRI juga menyampaikan apresiasi kepada para guru pendamping dan panitia yang telah memberikan ruang kepada generasi muda untuk membaca, berpikir, berkreasi, berkompetisi, dan belajar secara mendalam.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada lahirnya para juara, tetapi mampu melahirkan generasi yang literat, kritis, kreatif, reflektif, berkarakter, dan memiliki daya saing global.
Pada akhirnya, pesan yang disampaikannya menempatkan literasi dalam konteks yang jauh lebih luas: ketika informasi semakin cepat dan AI semakin pintar, manusia justru harus semakin mampu berpikir secara mendalam.
Kontes Literasi Nasional FKIP UNSRI 2026 pun menjadi ruang untuk menegaskan kembali bahwa pendidikan bukan sekadar menyiapkan generasi yang tahu banyak, tetapi generasi yang mampu berpikir, mampu menilai, dan mampu menggunakan pengetahuan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. “Read deeply. Think critically. Create meaningfully.” SDGs terkait: SDGs 4.








