Dr. Drs. Didi Jaya Santri, M.Si., CRA.
Dosen Program Studi Pendidikan Biologi dan Wakil Dekan II FKIP Universitas Sriwijaya.
Info Sriwijaya, Palembang – Pukul 06.00 WIB, Kamis 15 Oktober 2026, IQAir mencatat indeks kualitas udara (US AQI) Palembang di angka 1.680 dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 918 µg/m³. Kategorinya “Berbahaya” (Hazardous), tingkat tertinggi dalam skala tersebut. Angka itu berasal dari enam stasiun pemantau milik enam kontributor, dengan suhu 22 °C, kelembapan 96%, dan angin hanya 6 km/jam.
Tangkapan layar ini beredar luas di status WhatsApp warga Palembang pagi ini, termasuk di kalangan dosen dan guru. Aplikasi yang sama juga menampilkan peringatan “Kebakaran sekitar terdekat” (active fire nearby). Artinya, sumber asap tidak jauh dari kota.
Di jalan, angka itu terasa nyata. Kendaraan menyalakan lampu utama di pagi hari. Pohon dan tiang listrik di tepi jalan memudar menjadi siluet abu-abu hanya beberapa puluh meter di depan.
Di lahan terbuka, kabut asap menelan cakrawala. Semak dan pohon di kejauhan hampir tidak terlihat, seolah-olah seluruh lanskap ditutup tirai putih kelabu.
Pada saat yang sama, ribuan peserta didik bersiap berangkat ke sekolah dan ribuan guru sudah di perjalanan. Sebagian dari mereka naik sepeda motor tanpa masker yang memadai. Di sinilah persoalan karhutla bertemu langsung dengan dunia pendidikan.
Artikel ini mengupas tiga hal. Pertama, mengapa karhutla terus berulang di Indonesia, khususnya Sumatera Selatan. Kedua, apa dampaknya terhadap kesehatan peserta didik dan guru. Ketiga, bagaimana kebijakan meliburkan sekolah atau beralih ke pembelajaran jarak jauh (PJJ) berisiko memicu learning loss seperti yang kita alami pada masa pandemi COVID-19. Di bagian akhir, persoalan ini ditempatkan dalam kerangka SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).
Akar Masalah: Mengapa Sumatera Selatan Terus Terbakar
Karhutla di Sumatera Selatan bukan bencana yang datang tiba-tiba. Ia adalah bencana musiman yang berulang, dengan pola yang sudah kita kenal sejak 1997, 2015, 2019, dan 2023. Tahun 2026 kembali masuk daftar itu.
Gambut: bahan bakar yang tersembunyi
Sebagian besar asap Palembang berasal dari lahan gambut di kabupaten sekitarnya, terutama Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, dan Ogan Ilir. Gambut adalah tumpukan sisa tumbuhan yang terurai tidak sempurna selama ribuan tahun dalam kondisi tergenang. Saat dikeringkan untuk perkebunan atau pertanian, gambut berubah menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar.
Api di gambut tidak selalu berkobar di permukaan. Ia membara di bawah tanah (smouldering), merambat perlahan, dan sulit dipadamkan. Pembakaran yang tidak sempurna ini menghasilkan asap tebal yang kaya partikel halus, karbon monoksida, dan senyawa organik beracun. Itulah sebabnya asap gambut jauh lebih pekat dibanding asap kebakaran hutan biasa.
Skala 2026
Analisis Walhi Sumsel terhadap kesatuan hidrologis gambut (KHG) mencatat 16.685 titik panas, dengan 70,99% berada di kubah gambut (Mongabay, 12 Oktober 2026). Walhi menyebut tujuh kabupaten yang terbakar pada 2015 kembali terbakar tahun ini, padahal wilayah itu justru target restorasi gambut.
BNPB mencatat 354 titik panas berkepercayaan tinggi pada 7 Oktober 2026, dengan 92 titik api aktif di lahan seluas 390,61 hektare (Suara Landak). Hingga Rabu malam, 14 Oktober 2026, satgas gabungan Manggala Agni, TNI, Polri, dan BPBD masih memadamkan api di sejumlah lokasi (Ketik.com).
Faktor pendorong
- Musim kemarau panjang.Curah hujan rendah menurunkan muka air tanah gambut. BNPB mencatat sebagian besar wilayah Sumsel berada pada kategori sangat mudah terbakar di lapisan permukaan tanah.
- Drainase dan alih fungsi lahan.Kanal-kanal pengering untuk perkebunan membuat gambut kehilangan air secara permanen.
- Pembukaan lahan dengan api.Membakar masih menjadi cara termurah membersihkan lahan, baik oleh perorangan maupun pelaku usaha.
- Akses air yang terbatas.Bupati Banyuasin bahkan mendatangi perusahaan yang tidak memberi akses air kepada tim pemadam (com).
- Angin dan inversi pagi.Angin membawa asap dari OKI ke Palembang. Pada pagi hari, udara dingin dan lembap menahan asap di dekat permukaan. Kondisi ini cocok dengan data IQAir pagi 15 Oktober: angin 6 km/jam dan kelembapan 96%.
Karena itu, kabut asap Palembang sebagian besar adalah “asap kiriman”. Sumber api memang di luar kota, tetapi dampaknya paling terasa di kota berpenduduk padat dengan ratusan ribu pelajar.
Membaca Angka IQAir: Seberapa Parah AQI 1.680?
AQI 1.680 berarti udara Palembang pagi itu berada jauh di atas batas tertinggi skala bahaya. Dalam skala US AQI, kategori “Berbahaya” dimulai dari 301. Skala resmi Badan Perlindungan Lingkungan AS (US EPA) bahkan hanya sampai 500; IQAir memperluasnya (AQI⁺) agar angka ekstrem seperti ini tetap bisa ditampilkan.
Angka yang lebih mudah dibandingkan adalah konsentrasi PM2.5: 918 µg/m³. PM2.5 adalah partikel berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil, sekitar 1/30 tebal rambut manusia. Partikel ini lolos dari saringan hidung, masuk ke alveolus paru-paru, dan sebagian dapat menembus aliran darah.
ngka IQAir adalah pembacaan sesaat (per jam), bukan rata-rata 24 jam. Pagi hari biasanya menjadi puncak karena inversi suhu menahan asap di dekat tanah. Meski begitu, pembacaan pagi justru paling relevan bagi dunia pendidikan, karena itulah jam anak-anak berangkat sekolah.
Angka Indeks tanggal 15 Oktober 2026 ini juga bukan anomali satu hari. Sepanjang dua bulan terakhir, berbagai sumber mencatat lonjakan yang konsisten, sebagaimana tergambar dalam infografis berikut ini.
Pola ini menunjukkan paparan kronis, bukan sesaat. Anak-anak Palembang telah menghirup udara tidak sehat hingga berbahaya selama berminggu-minggu. Sebagai pembanding, Palembang pernah menjadi kota dengan udara terbaik di Indonesia versi IQAir pada Desember 2024, dengan AQI 47 (Katadata). Udara bersih itu ada; ia hilang setiap musim karhutla.
Dampak Kesehatan bagi Peserta Didik dan Guru
Kabut asap telah mendorong lonjakan ISPA di Palembang, dan anak sekolah termasuk kelompok yang paling rentan. Dinkes Kota Palembang menangani 12.589 kasus ISPA hanya dalam periode 1–21 September 2026 di 30 rumah sakit dan puskesmas (Koran Jakarta). Sebelumnya, sepanjang Januari–Juli 2026 tercatat 94.964 kasus (JournalArta).
Wali Kota Palembang Ratu Dewa sendiri menyebut kenaikan ISPA di kalangan pelajar sebagai alasan utama penerapan PJJ (Radar Palembang). Walhi Sumsel mencatat dua kematian warga Palembang dan OKI yang diduga dipicu kabut asap (Mongabay).
Mengapa anak lebih rentan
- Laju napas lebih cepat.Per kilogram berat badan, anak menghirup lebih banyak udara dibanding orang dewasa. Dosis partikel yang masuk ke paru-paru pun relatif lebih besar.
- Paru-paru masih berkembang.Alveolus terus bertambah hingga masa remaja. Paparan berulang dapat mengganggu pertumbuhan fungsi paru jangka panjang.
- Aktivitas luar ruang.Anak bermain, berolahraga, dan berjalan ke sekolah. Napas yang dalam saat bergerak menarik partikel lebih jauh ke saluran napas.
- Kondisi bawaan.Anak dengan asma, alergi, atau gizi kurang mengalami gejala lebih berat.
Dampaknya tidak berhenti pada batuk dan sesak. Literatur kesehatan lingkungan mengaitkan PM2.5 dengan peradangan sistemik, gangguan tidur, iritasi mata, sakit kepala, dan penurunan konsentrasi. Sejumlah studi internasional juga menemukan hubungan antara hari berpolusi tinggi dan nilai ujian yang lebih rendah. Kajian atas kebakaran 1997 di Indonesia bahkan mengaitkan paparan asap saat dalam kandungan dengan tinggi badan dewasa yang lebih pendek. Artinya, asap hari ini bisa meninggalkan jejak bertahun-tahun.
Guru: korban yang jarang dihitung
Guru jarang disebut dalam laporan dampak asap, padahal mereka terpapar setiap hari. Banyak guru di Palembang dan sekitarnya berangkat dengan sepeda motor, sebagian menempuh puluhan kilometer dari Banyuasin atau Ogan Ilir. Mereka menghirup asap di jam terburuk, yaitu pagi hari.
Guru juga memakai suaranya sepanjang hari. Iritasi tenggorokan dan saluran napas atas membuat mengajar menjadi melelahkan. Guru yang hamil, lansia, atau memiliki penyakit jantung dan paru menghadapi risiko lebih tinggi.
Saat PJJ berlaku, beban guru justru bertambah. Mereka menyiapkan materi daring, menghubungi orang tua satu per satu, mengatur jadwal pengambilan Makan Bergizi Gratis (MBG), dan sering kali sekaligus mengasuh anak sendiri yang juga belajar dari rumah. Kelelahan fisik akibat asap bertemu kelelahan mental akibat beban kerja ganda.
Kesehatan mental
Kabut asap yang berlangsung berminggu-minggu menimbulkan kecemasan kolektif. Orang tua khawatir setiap kali anak batuk. Anak kehilangan ruang bermain dan bertemu teman. Emoji cemas di status WhatsApp yang menyertai tangkapan layar IQAir pagi ini adalah gambaran kecil dari suasana batin warga kota.
Dampak pada Pendidikan: Sekolah yang Berpindah-pindah Mode
Sejak Agustus 2026, sekolah di Palembang berganti mode pembelajaran berkali-kali mengikuti tebal-tipisnya asap. Siswa TK hingga SMP telah menjalani PJJ sejak 9 September, kembali tatap muka sebagian, lalu daring lagi. Kronologinya ditampilkan pada infografis berikut.
Kebijakan ini lahir dari niat baik: melindungi kesehatan anak. Namun, perpindahan mode yang berulang menimbulkan masalah tersendiri.
Ketimpangan akses
Kepala Disdik Palembang Affan Prapanca mengakui tidak semua siswa memiliki fasilitas memadai untuk belajar daring (Tribun Sumsel). Satu ponsel sering dipakai bergantian oleh beberapa anak. Kuota internet menjadi beban keluarga berpenghasilan rendah. Anak dari keluarga mampu tetap belajar dengan les dan perangkat lengkap, sementara anak lain praktis berhenti belajar.
Kualitas pembelajaran menurun
PJJ di jenjang TK dan SD awal sangat bergantung pada pendampingan orang tua. Orang tua yang bekerja tidak bisa mendampingi. Pembelajaran lalu menyusut menjadi kiriman tugas lewat grup WhatsApp, tanpa penjelasan, umpan balik, atau interaksi. Disdik Palembang sendiri mengakui PJJ tidak ideal dalam kondisi kabut asap (IDN Times).
Kebijakan yang tidak seragam
SMA dan SMK berada di bawah kewenangan provinsi, sehingga aturannya bisa berbeda dari TK–SMP yang diatur kota. Setelah Perwali 63/2026, keputusan bahkan berbeda antarsekolah. Fleksibilitas ini masuk akal, tetapi tanpa indikator yang jelas, misalnya ambang ISPU atau PM2.5 tertentu, keputusan rawan bergantung pada tekanan orang tua, bukan data kualitas udara.
Asap tidak berhenti di pagar rumah
PJJ mengasumsikan rumah lebih aman daripada sekolah. Kenyataannya, banyak rumah di Palembang tidak kedap udara dan tidak memiliki pemurni udara. PM2.5 mudah masuk lewat ventilasi. Tanpa ruang bersih (clean room), anak di rumah tetap terpapar, hanya saja kini juga kehilangan pembelajaran.
Learning Loss: Pelajaran dari Pandemi yang Belum Dipetik
Pengalaman COVID-19 menunjukkan bahwa PJJ yang berkepanjangan hampir pasti menimbulkan learning loss. Riset Kemendikbudristek atas 3.391 siswa SD di 7 kabupaten/kota di 4 provinsi menemukan bahwa setelah 12 bulan belajar di masa pandemi, siswa kehilangan kemajuan setara 6 bulan belajar untuk literasi dan 5 bulan untuk numerasi (Industry.co.id; Policy Brief Kemendikbudristek).
Sebelum pandemi, kemajuan belajar siswa kelas 1 SD dalam satu tahun mencapai 129 poin untuk literasi dan 78 poin untuk numerasi. Pandemi memangkas kemajuan itu hampir separuhnya.
Tiga wajah learning loss
- Pembelajaran yang tidak tuntas(unfinished learning). Materi tidak sempat diajarkan atau diajarkan sekadarnya.
- Kemunduran(regression). Keterampilan yang sudah dikuasai terlupakan karena tidak dilatih, mirip summer slide di negara bermusim empat.
- Kesenjangan yang melebar.Anak dari keluarga mampu relatif bertahan; anak dari keluarga rentan tertinggal jauh. Kerugian ini paling sulit dipulihkan.
Hitungan kasar untuk 2026
Dari 9 September hingga 15 Oktober 2026 terdapat sekitar 27 hari sekolah. Sebagian besar hari itu dijalani siswa TK–SMP Palembang secara daring atau dalam mode campuran. Jika efektivitas PJJ setara masa pandemi (kemajuan belajar sekitar separuh normal), maka satu setengah bulan PJJ berpotensi menghilangkan sekitar tiga minggu kemajuan belajar. Angka ini adalah ilustrasi, bukan hasil pengukuran, tetapi arahnya jelas.
Masalahnya, karhutla belum berakhir. Semakin lama asap bertahan, semakin besar kerugian. Kalender akademik juga sedang memasuki masa penilaian tengah dan akhir semester.
Kerugian yang bertumpuk pada satu generasi
Inilah dimensi yang paling mengkhawatirkan. Ambil contoh siswa yang masuk kelas 1 SD pada Juli 2020. Ia memulai sekolah dengan PJJ pandemi. Pada 2023, saat duduk di kelas 4, ia kembali menghadapi kabut asap El Niño. Kini, pada 2026, ia baru masuk kelas 7 SMP dan kembali belajar dari rumah.
Satu generasi pelajar Palembang dengan demikian mengalami gangguan pembelajaran berulang sejak hari pertama sekolah. Kerugian kecil yang berulang dapat menumpuk menjadi ketertinggalan besar, terutama pada literasi dan numerasi dasar yang menjadi fondasi semua mata pelajaran.
Pelajaran positif dari pandemi
Pandemi juga memberi bukti bahwa kerugian dapat ditekan. Kurikulum darurat, yaitu Kurikulum 2013 yang disederhanakan, terbukti mengurangi dampak pandemi sebesar 73% untuk literasi dan 86% untuk numerasi (detik.com). Kuncinya adalah fokus pada kompetensi esensial, bukan mengejar seluruh materi. Pelajaran ini seharusnya langsung diterapkan pada PJJ akibat karhutla.
Rekomendasi: Melindungi Paru-paru Tanpa Mengorbankan Pembelajaran
Pilihan kebijakan tidak harus “sekolah tatap muka di tengah asap” atau “PJJ seadanya”. Ada jalan tengah yang melindungi kesehatan sekaligus menjaga pembelajaran.
Pemerintah daerah dan dinas pendidikan
- Protokol berbasis data.Tetapkan ambang yang jelas, misalnya PTM normal saat ISPU ≤100, PTM dengan pembatasan aktivitas luar ruang pada 101–200, dan PJJ di atas 300. Keputusan tidak lagi bergantung pada tekanan, tetapi pada angka.
- Sensor di setiap gugus sekolah.Sensor PM2.5 berbiaya rendah dapat dipasang per kecamatan atau per gugus. Data lokal lebih adil dibanding satu angka untuk seluruh kota.
- Ruang kelas bersih udara.Prioritaskan sekolah dasar dan PAUD untuk dilengkapi pemurni udara HEPA, penutupan celah ventilasi, dan satu ruang aman per sekolah. Biayanya jauh lebih kecil dibanding kerugian learning loss.
- Kurikulum darurat karhutla.Terbitkan panduan materi esensial untuk masa kabut asap, mengikuti keberhasilan kurikulum darurat COVID-19.
- Selaraskan kota dan provinsi.Protokol TK–SMP (kota) dan SMA–SMK (provinsi) sebaiknya memakai ambang yang sama.
- Asesmen diagnostik setelah asap reda.Ukur literasi dan numerasi segera setelah PTM pulih, lalu lakukan pembelajaran remedial terarah.
Sekolah dan guru
- PJJ yang terstruktur, bukan sekadar tugas.Jadwal harian singkat, materi pendek, dan umpan balik rutin lebih efektif daripada tumpukan tugas.
- Moda luring untuk siswa tanpa gawai.Modul cetak dapat dibagikan bersamaan dengan pengambilan MBG, sehingga satu kunjungan melayani dua kebutuhan.
- Pemetaan siswa rentan.Catat siswa dengan asma, gizi kurang, atau tanpa akses internet, lalu beri pendampingan khusus.
- Lindungi guru.Sediakan masker N95 atau KN95 untuk guru, izinkan mengajar dari rumah saat ISPU berbahaya, dan beri dispensasi bagi guru berisiko tinggi.
Orang tua dan keluarga
- Gunakan masker N95 atau KN95 yang pas di wajah anak; masker kain dan masker bedah jauh kurang efektif menyaring PM2.5.
- Pilih satu ruangan di rumah sebagai ruang bersih: tutup jendela, sumbat celah, dan gunakan pemurni udara bila mampu.
- Pantau gejala anak. Segera ke puskesmas bila muncul sesak, napas berbunyi, atau demam. Pemkot Palembang telah menyiapkan posko kesehatan dan Dinkes Sumsel membagikan lebih dari 400 ribu masker sejak Agustus (RRI).
- Dampingi belajar anak secara rutin meskipun singkat, misalnya 30 menit membaca bersama setiap hari.
Hulu masalah: mencegah api
Semua langkah di atas hanya mengurangi dampak. Solusi sesungguhnya ada di hulu: pembasahan kembali (rewetting) gambut, sekat kanal, penegakan hukum terhadap pembakar lahan, dan kewajiban perusahaan menyediakan infrastruktur air. Dunia pendidikan pun bisa berperan, melalui kurikulum muatan lokal tentang ekologi gambut dan riset perguruan tinggi tentang restorasi lahan basah.
Karhutla dan SDG’s 4: Ancaman bagi Pendidikan Berkualitas
SDG’s 4 (Quality Education) menargetkan pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan setara, serta kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua. Indonesia mengadopsinya sebagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) melalui Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2022. Karhutla yang berulang di Sumatera Selatan menyentuh hampir semua target SDG 4 secara langsung.
| Target SDG 4 | Kaitan Pendidikan dimasa Karhutla (Kabut Asap) |
| 4.1 Pendidikan dasar dan menengah yang bermutu dengan hasil belajar yang efektif | PJJ berulang berisiko menimbulkan learning loss literasi dan numerasi, seperti pada masa pandemi (indikator 4.1.1.) |
| 4.2 Akses ke pendidikan anak usia dini yang bermutu | PAUD dan TK termasuk jenjang yang ikut PJJ, padahal anak usia dini paling sulit belajar dari layar |
| 4.5 Menghapus kesenjangan dan menjamin akses bagi kelompok rentan | Anak dari keluarga tanpa gawai, kuota, atau pendamping paling dirugikan oleh PJJ |
| 4.7 Pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan | Sekolah di daerah gambut berpeluang besar mengajarkan ekologi gambut dan pencegahan karhutla |
| 4.a Lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan efektif | Ruang kelas tanpa perlindungan dari asap tidak memenuhi syarat lingkungan belajar yang aman |
| 4.c Peningkatan pasokan guru yang berkualitas | Kesehatan dan beban kerja guru terganggu, sementara kompetensi merancang PJJ belum merata |
Tabel ini menunjukkan bahwa karhutla bukan sekadar isu lingkungan. Ia adalah ancaman langsung terhadap pencapaian SDG’s 4 (Quality Education) di tingkat daerah. Setiap musim asap, capaian literasi dan numerasi, kesetaraan akses, dan keamanan lingkungan belajar ikut tergerus.
SDGs 4 (Quality Education) juga tidak berdiri sendiri. Kabut asap terkait erat dengan SDGs 3 (Good Health and Well-Being) tentang kesehatan, khususnya target 3.9 tentang penurunan penyakit dan kematian akibat polusi udara. Ia juga terkait dengan SDGs 13 (Climate Action) tentang penanganan perubahan iklim, karena gambut yang terbakar melepaskan karbon dalam jumlah besar, serta SDGs 15 (Life on Land) tentang ekosistem daratan, termasuk lahan basah. Artinya, melindungi gambut adalah syarat untuk mencapai pendidikan berkualitas di Sumatera Selatan.
Rekomendasi pada bagian sebelumnya dapat dibaca sebagai langkah konkret mencapai SDGs 4 di tingkat lokal. Protokol berbasis data dan ruang kelas bersih udara menjawab target 4.a. Modul luring dan pemetaan siswa rentan menjawab target 4.5. Asesmen diagnostik dan kurikulum darurat menjawab target 4.1. Muatan lokal ekologi gambut menjawab target 4.7. Perlindungan dan pelatihan guru menjawab target 4.c.
Anak-anak Palembang yang hari ini kehilangan waktu belajar karena asap adalah generasi yang kelak harus menjaga gambut agar tidak terbakar lagi. Melindungi pendidikan mereka sama dengan berinvestasi pada ketahanan iklim daerah. Kedua tujuan ini juga terkait erat dengan SDGs 3 (kesehatan) dan SDGs 15 (ekosistem daratan), yang sama-sama terancam oleh karhutla.
Penutup: Jangan Biarkan Asap Mencuri Masa Depan
AQI 1.680 pada pagi 15 Oktober 2026 adalah peringatan keras. Angka itu bukan sekadar statistik lingkungan, tetapi ukuran seberapa berat paru-paru anak dan guru Palembang bekerja setiap pagi. Di balik foto jalan berkabut dan lahan yang lenyap ditelan asap, ada ribuan anak yang batuk, ribuan guru yang kelelahan, dan satu generasi yang kembali kehilangan waktu belajar.
Kita pernah belajar dari pandemi bahwa sekolah yang tutup terlalu lama meninggalkan luka pembelajaran. Kita juga belajar bahwa luka itu dapat diperkecil dengan kurikulum yang disederhanakan, asesmen diagnostik, dan perhatian khusus pada siswa rentan. Pengetahuan itu sudah ada. Yang dibutuhkan sekarang adalah kemauan untuk menerapkannya setiap musim kemarau, bukan menunggu asap datang lalu panik.
Pada akhirnya, persoalan pendidikan di tengah karhutla adalah persoalan tata kelola gambut. Selama gambut terus dikeringkan dan dibakar, sekolah di Palembang akan terus berganti mode setiap tahun. Melindungi gambut berarti melindungi ruang kelas dan melindungi ruang kelas berarti menjaga janji SDGs 4: tidak ada satu anak pun yang tertinggal.








