Dari Sriwijaya ke Dunia: Peneliti FKIP UNSRI Menggagas Masa Depan Pendidikan Perubahan Iklim

- Penulis

Kamis, 10 September 2026 - 01:26 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Info Sriwijaya, Palembang – Perubahan iklim tidak lagi hanya menjadi persoalan lingkungan. Ia telah memasuki ruang kelas, memengaruhi cara generasi muda memahami dunia, dan menuntut guru untuk memiliki kemampuan yang jauh lebih luas daripada sekadar menyampaikan pengetahuan. Kesadaran inilah yang mempertemukan para peneliti dari Indonesia, Amerika Serikat, dan Turki dalam sebuah diskusi akademik internasional yang berlangsung secara daring pada pukul *21.00 WIB atau 08.00 pagi waktu Amerika Serikat*.

Dari Universitas Sriwijaya (UNSRI), diskusi tersebut melibatkan *Dr. Hartono, Prof. Sofendi, dan Dr. Rita InderawatiMereka berdiskusi dengan **Prof. Kathy Trundle dari Utah State University, Amerika Serikat, serta **Prof. Mehmet dari Istanbul University, Turki*, bersama kolega peneliti lainnya.

Pertemuan tersebut bukan sekadar pertukaran gagasan, tetapi bagian dari upaya memperkuat riset internasional mengenai *pendidikan perubahan iklim dan kesiapan calon guru menghadapi persoalan lingkungan global*.

Salah satu kajian yang dibahas memiliki cakupan data yang cukup besar, yakni melibatkan *2.161 calon guru dari 24 institusi pendidikan guru di lima wilayah kepulauan utama Indonesia*. Mereka berasal dari lima bidang pendidikan: pendidikan dasar, bahasa, matematika, sains, dan ilmu sosial.

Yang menarik, penelitian ini tidak melihat keterlibatan terhadap perubahan iklim hanya dari seberapa banyak pengetahuan ilmiah yang dimiliki calon guru. Penelitian mengkajinya melalui empat dimensi, yakni *ketidakpastian terhadap perubahan iklim, sikap terhadap lingkungan, perilaku pro-lingkungan, serta keyakinan epistemik tentang pengetahuan perubahan iklim*.

Baca Juga :  BGN Perkuat Tata Kelola MBG, Awasi Keamanan Pangan dan Berantas Praktik Koruptif

Hasilnya memberikan pesan penting: *tidak ada satu disiplin yang secara konsisten lebih unggul dalam seluruh dimensi keterlibatan terhadap perubahan iklim*. Justru terdapat pola yang berbeda antardisiplin.

Temuan ini sekaligus menantang cara pandang lama yang cenderung menempatkan pendidikan sains sebagai pusat utama pendidikan perubahan iklim. Perubahan iklim memang membutuhkan pemahaman sains, tetapi persoalannya jauh lebih kompleks. Ia juga menyangkut bagaimana manusia menilai informasi, memandang lingkungan, mengambil keputusan, berkomunikasi, serta bertindak sebagai bagian dari masyarakat.

Dalam perspektif tersebut, keberagaman disiplin justru dapat menjadi kekuatan. Pendidikan sains dapat memperkuat penalaran ilmiah dan pemahaman bukti; matematika dapat berkontribusi pada kemampuan membaca dan menafsirkan data; pendidikan bahasa dapat memperkuat komunikasi dan literasi kritis; ilmu sosial dapat membuka ruang untuk memahami dimensi sosial, kewargaan, kebijakan, dan keadilan lingkungan; sementara pendidikan dasar memiliki posisi strategis dalam menanamkan literasi perubahan iklim sejak usia dini.

*Dr. Rita Inderawati* sendiri dalam beberapa tahun terakhir terus mengembangkan arah riset yang menghubungkan *pendidikan bahasa Inggris dengan isu perubahan iklim*. Bagi pendidikan bahasa, isu perubahan iklim bukan sekadar topik bacaan, melainkan dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membaca, menulis, berdiskusi, berpikir kritis, dan mengomunikasikan persoalan global yang nyata.

Baca Juga :  Mahasiswa PMDSU FKIP UNSRI Best Prsenter pada The 12th SEADR-IC di UNJ

Arah riset tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan bahasa dapat mengambil bagian dalam agenda besar pendidikan perubahan iklim. Bahasa menjadi medium untuk memahami informasi, menguji klaim, menghadapi misinformasi, membangun kesadaran, dan menggerakkan tindakan.

Diskusi lintas negara ini akhirnya membawa satu gagasan penting: *pendidikan perubahan iklim tidak seharusnya dibangun dalam hierarki disiplin, tetapi melalui komplementaritas antardisiplin*. Tidak perlu mencari bidang mana yang paling unggul. Yang jauh lebih penting adalah menemukan bagaimana kekuatan setiap bidang dapat dipertemukan untuk mempersiapkan guru menghadapi persoalan perubahan iklim yang semakin kompleks.

Bagi UNSRI, kolaborasi dengan akademisi dari Amerika Serikat dan Turki ini menjadi bagian dari penguatan jejaring riset internasional sekaligus mempertegas posisi pendidikan sebagai salah satu ruang strategis dalam merespons perubahan iklim.

Sebab, perubahan iklim mungkin terjadi di atmosfer, laut, hutan, dan kota-kota. Namun, *perubahan cara manusia memahami dan meresponsnya harus dimulai dari ruang kelas*. SDGs terkait: SDGs4, SDGs 13, dan SDGs 17

Berita Terkait

Dorong Kreativitas Menulis, Tim Dosen PBSI FKIP Unsri Gelar Pelatihan E-LKM Berbasis Pembelajaran Berdiferensiasi
Dosen FKIP UM Palembang Angkat Masa Depan Sastra Anak di Era Digital pada KIK HISKI ke-36
Banyuasin Bidik Investasi Industri Pengolahan Kelapa, Wabup Netta Terima LoI Weihong Biotechnology
WD I FKIP UNSRI Prof. Rita Inderawati Perkuat Jejaring Sastra Internasional melalui HISKI
FKIP UNSRI Apresiasi 22 Guru Besar: Modal Akademik Menuju Fakultas Bereputasi Global
HISKI Sumsel Ukir Prestasi Nasional, Raih Penghargaan atas Dedikasi Pengembangan Sastra
Ini Pendapat Sasa, Pemudi Berprestasi Sumsel Usai Peringati Sumpah Pemuda ke-98
Ketika AI Bisa Menulis, Apa yang Masih Harus Dipelajari Manusia?
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 09:02 WIB

Dorong Kreativitas Menulis, Tim Dosen PBSI FKIP Unsri Gelar Pelatihan E-LKM Berbasis Pembelajaran Berdiferensiasi

Selasa, 3 November 2026 - 23:26 WIB

Dosen FKIP UM Palembang Angkat Masa Depan Sastra Anak di Era Digital pada KIK HISKI ke-36

Selasa, 3 November 2026 - 22:51 WIB

Banyuasin Bidik Investasi Industri Pengolahan Kelapa, Wabup Netta Terima LoI Weihong Biotechnology

Minggu, 1 November 2026 - 23:03 WIB

WD I FKIP UNSRI Prof. Rita Inderawati Perkuat Jejaring Sastra Internasional melalui HISKI

Minggu, 1 November 2026 - 21:55 WIB

FKIP UNSRI Apresiasi 22 Guru Besar: Modal Akademik Menuju Fakultas Bereputasi Global

Berita Terbaru