Ketika Asap Memasuki Ruang Kelas: Pendidikan yang Tak Boleh Ikut Tercekik

- Penulis

Selasa, 8 September 2026 - 23:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh

      Dr. Rita Inderawati, M.Pd.

 Wakil Dekan I FKIP UNSRI/Pengamat Pendidikan

Dua minggu sudah perkuliahan berlangsung secara daring. Bukan karena pandemi, bukan pula karena teknologi tiba-tiba menjadi pilihan utama pembelajaran, tetapi karena sesuatu yang jauh lebih sederhana sekaligus mengkhawatirkan: udara yang seharusnya menjadi hak setiap manusia untuk dihirup dengan aman telah berubah menjadi ancaman. Asap tidak hanya memenuhi udara. Ia memasuki rumah, mengganggu aktivitas, membatasi mobilitas, dan perlahan-lahan memasuki ruang yang selama ini kita anggap aman: ruang pendidikan.

Ketika kualitas udara memburuk, persoalannya sebenarnya tidak berhenti pada batuk, mata perih, atau sesak napas. Ada persoalan pendidikan yang lebih besar di baliknya. Sekolah dan perguruan tinggi harus mengubah pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran daring. Guru dan dosen harus mengubah strategi mengajar. Siswa dan mahasiswa harus beradaptasi dengan layar. Orang tua kembali menghadapi tantangan mendampingi anak belajar dari rumah.

Pertanyaannya: apakah kita hanya akan menganggap semua ini sebagai gangguan sementara sampai asap menghilang?

Jika jawabannya ya, kita sedang kehilangan kesempatan penting untuk belajar.

Sebab, asap sesungguhnya adalah ruang kelas yang sangat besar. Ia mengajarkan kepada kita bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam gedung sekolah atau kampus. Pendidikan juga berlangsung ketika masyarakat berhadapan dengan persoalan lingkungan yang nyata.

Asap adalah Masalah Pendidikan. Selama ini, isu lingkungan sering ditempatkan sebagai materi pelajaran: perubahan iklim dibahas dalam buku, pencemaran udara dijelaskan dalam kelas, dan pelestarian lingkungan menjadi topik diskusi. Namun, ketika asap benar-benar memenuhi lingkungan tempat kita tinggal, persoalannya berubah. Kita tidak lagi sedang mempelajari pencemaran udara. Kita sedang mengalami pencemaran udara.

Di sinilah pendidikan seharusnya mengambil peran. Siswa tidak cukup hanya mengetahui bahwa asap berbahaya. Mahasiswa tidak cukup hanya mampu menjelaskan penyebab kebakaran hutan dan lahan. Guru dan dosen tidak cukup hanya menyampaikan materi tentang lingkungan. Pendidikan harus mendorong pertanyaan yang lebih kritis:

Mengapa asap terus terjadi? Siapa yang terdampak paling besar? Mengapa        masalah yang sama berulang? Apa hubungan antara perilaku manusia,          kebijakan, ekonomi, lingkungan, dan kesehatan masyarakat? Dan yang         paling penting: apa yang dapat kita lakukan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa pendidikan dari sekadar knowledge transmission menuju social responsibility.

Peralihan kuliah ke daring memang merupakan langkah adaptif untuk menjaga keselamatan. Teknologi memungkinkan proses pembelajaran tetap berjalan ketika kondisi lingkungan tidak memungkinkan pertemuan tatap muka. Namun, kita perlu berhati-hati. Jangan sampai keberhasilan pembelajaran daring membuat kita berpikir bahwa persoalan asap telah selesai. Kuliah daring adalah strategi menghadapi dampak asap, bukan solusi terhadap asap itu sendiri.

Baca Juga :  Bedah Buku Antara Kampus dan Doa Ibu, Potret Perjuangan di Balik Kehidupan Akademik

Di balik layar laptop dan telepon genggam, tetap ada mahasiswa yang mungkin belajar dalam kondisi udara tidak sehat. Ada keluarga yang harus menutup pintu dan jendela sepanjang hari. Ada pekerja yang tetap harus keluar rumah. Ada anak-anak yang kehilangan kesempatan bermain di ruang terbuka.

Karena itu, pendidikan tidak boleh hanya bertanya, “Bagaimana kita tetap mengajar ketika ada asap?” Pendidikan juga harus bertanya: “Mengapa anak-anak dan mahasiswa kita harus belajar dalam kondisi seperti ini?” Perubahan pertanyaan tersebut sangat penting. Ia menggeser perhatian kita dari sekadar adaptasi terhadap masalah menuju upaya memahami dan mencegah masalah.

Kita mungkin bukan pembuat kebijakan. Kita mungkin tidak memiliki kewenangan untuk menghentikan kebakaran. Tetapi bukan berarti kita tidak memiliki peran. Pelajar dan mahasiswa memiliki satu kekuatan yang sangat penting: pengetahuan. Gunakan pengetahuan untuk memahami persoalan, bukan sekadar untuk mendapatkan nilai.Mahasiswa dapat memanfaatkan tugas kuliah untuk mengangkat persoalan kualitas udara, kebakaran hutan dan lahan, perubahan iklim, kesehatan masyarakat, atau dampaknya terhadap pendidikan. Mereka dapat membuat kampanye digital berbasis data, podcast, video edukasi, poster, tulisan opini, penelitian kecil, atau proyek komunitas.

Yang lebih penting, mahasiswa perlu belajar menjadi warga yang kritis. Jangan mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Jangan menyederhanakan persoalan asap menjadi sekadar “musim kemarau”. Cari data, pahami penyebab, dengarkan berbagai perspektif, dan berani mempertanyakan kebijakan ketika diperlukan. Dengan demikian, tugas kuliah tidak berhenti di ruang kelas. Tugas kuliah dapat menjadi kontribusi sosial.

Guru dan dosen juga memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar memindahkan materi pembelajaran dari kelas ke Zoom atau platform daring lainnya.Situasi asap seharusnya menjadi momentum untuk menghadirkan environmental literacy ke dalam pembelajaran. Guru dapat mengajak siswa membaca kualitas udara, menganalisis berita tentang kebakaran, menulis refleksi, membuat kampanye lingkungan, atau mendiskusikan hubungan antara lingkungan dan kesehatan. Dosen dapat mengembangkan pembelajaran lintas disiplin. Dosen bahasa dapat mengajak mahasiswa menulis argumentasi tentang asap. Dosen pendidikan dapat membahas dampaknya terhadap proses belajar. Dosen sains dapat membahas kualitas udara. Dosen sosial dapat membicarakan kebijakan dan perilaku masyarakat. Bahkan mahasiswa calon guru dapat belajar bagaimana mengubah masalah lingkungan menjadi sumber belajar. Dengan demikian, asap tidak hanya menjadi alasan untuk memindahkan kelas ke rumah, tetapi menjadi bahan untuk memperkaya pembelajaran.

Di sinilah pendidikan menunjukkan relevansinya. Jangan Hanya Menunggu Hujan. Ada kecenderungan dalam masyarakat untuk menganggap persoalan asap sebagai sesuatu yang akan hilang dengan sendirinya ketika hujan turun. Memang, hujan dapat membantu membersihkan udara. Tetapi pendidikan seharusnya mengajarkan kita bahwa menunggu hujan bukanlah strategi penyelesaian masalah.

Baca Juga :  Menulis dengan AI: Meningkatkan atau Melemahkan Keterampilan Menulis Siswa?

Jika setiap tahun masyarakat kembali mengalami asap, sekolah kembali terganggu, perkuliahan kembali daring, dan masyarakat kembali mengeluh, lalu setelah hujan turun semuanya dilupakan, berarti kita belum benar-benar belajar. Padahal, salah satu tujuan pendidikan adalah membuat manusia belajar dari pengalaman. Jika pengalaman buruk terus berulang tanpa menghasilkan perubahan perilaku, kebijakan, dan kesadaran, maka pengalaman tersebut hanya menjadi peristiwa—bukan pembelajaran.

Pendidikan Harus Mengubah Cara Kita Melihat Asap. Mungkin selama ini kita melihat asap sebagai persoalan lingkungan. Kita perlu melihatnya lebih luas. Asap adalah persoalan pendidikan. Ia memengaruhi kehadiran siswa, konsentrasi belajar, aktivitas sekolah, mobilitas mahasiswa, produktivitas guru dan dosen, serta kualitas interaksi dalam pembelajaran. Lebih jauh lagi, asap memperlihatkan kepada kita bahwa persoalan lingkungan dan pendidikan tidak dapat dipisahkan. Karena itu, ketika asap datang, kita tidak hanya membutuhkan masker. Kita membutuhkan kesadaran. Kita membutuhkan pengetahuan. Kita membutuhkan tanggung jawab. Dan kita membutuhkan pendidikan yang mampu mengubah pengetahuan menjadi tindakan.

Pelajar dapat memulai dari hal kecil: belajar, memeriksa informasi, menjaga lingkungan, dan mengedukasi teman. Mahasiswa dapat melangkah lebih jauh: melakukan riset, membuat kampanye berbasis data, menghasilkan karya, dan terlibat dalam masyarakat. Guru dan dosen dapat membuka ruang pembelajaran yang menjadikan persoalan lingkungan sebagai bagian nyata dari pendidikan. Sementara itu, masyarakat perlu menyadari bahwa kualitas udara bukan sekadar persoalan lingkungan. Ia adalah bagian dari hak anak untuk belajar, hak mahasiswa untuk mendapatkan pendidikan yang layak, dan hak setiap manusia untuk hidup dalam lingkungan yang sehat.

Dua minggu kuliah daring karena asap seharusnya tidak hanya kita catat sebagai kalender akademik yang berubah. Biarkan dua minggu ini menjadi pelajaran. Pelajaran bahwa ketika udara menjadi tidak sehat, pendidikan ikut terdampak. Pelajaran bahwa teknologi dapat membantu kita bertahan, tetapi tidak menyelesaikan akar masalah. Dan pelajaran bahwa pendidikan yang sesungguhnya bukan hanya tentang bagaimana kita tetap belajar ketika menghadapi masalah, tetapi juga tentang bagaimana pengetahuan yang kita miliki dapat membuat kita mampu mencegah masalah itu terus berulang.

Sebab, ketika asap memasuki ruang kelas, pendidikan tidak boleh ikut tercekik. Pendidikan justru harus menjadi salah satu jalan untuk membersihkan udara—bukan hanya secara harfiah, tetapi juga melalui kesadaran, pengetahuan, dan tindakan manusia.

Berita Terkait

Bedah Buku Antara Kampus dan Doa Ibu, Potret Perjuangan di Balik Kehidupan Akademik
Menulis dengan AI: Meningkatkan atau Melemahkan Keterampilan Menulis Siswa?
Mendidik Guru di Era AI: Tantangan Baru LPTK Indonesia
Ketika Bumi Kehilangan Suara: Mengapa Pendidikan Perubahan Iklim Harus Dimulai dari Sekolah
Menatap Juli 2026: Lembaran Hari Penting, dari Apresiasi Nasional hingga Kepedulian Global
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 07:15 WIB

Bedah Buku Antara Kampus dan Doa Ibu, Potret Perjuangan di Balik Kehidupan Akademik

Selasa, 8 September 2026 - 23:35 WIB

Ketika Asap Memasuki Ruang Kelas: Pendidikan yang Tak Boleh Ikut Tercekik

Minggu, 23 Agustus 2026 - 09:12 WIB

Menulis dengan AI: Meningkatkan atau Melemahkan Keterampilan Menulis Siswa?

Rabu, 5 Agustus 2026 - 05:19 WIB

Mendidik Guru di Era AI: Tantangan Baru LPTK Indonesia

Jumat, 31 Juli 2026 - 21:37 WIB

Ketika Bumi Kehilangan Suara: Mengapa Pendidikan Perubahan Iklim Harus Dimulai dari Sekolah

Berita Terbaru