Info Sriwijaya, Indralaya – Podcast tidak lagi cukup hanya didengar. Bagi siswa SMAIT Raudhatul Ulum Sakatiga, suara tentang perubahan iklim kini mulai dipikirkan bagaimana bisa “hidup” di layar melalui gambar, foto, video, dan cara penyampaian yang menarik.
Hal itu menjadi warna pertemuan kelima Program Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Sriwijaya yang dilaksanakan secara daring, Selasa (9/9/2026). Setelah sebelumnya belajar mengenali isu perubahan iklim dan menyusun naskah podcast di lab bahasa SMAIT secara luring, para siswa kini memasuki tahap yang lebih menantang: menyiapkan produksi video podcast.
Kegiatan PPM bertajuk “Pelatihan Pembuatan Podcast Belajar Bertema Perubahan Iklim dengan Menerapkan Model Project-Based Learning (PjBL) di SMAIT Raudhatul Ulum Sakatiga, Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir” ini dipimpin Dr. Rita Inderawati, M.Pd. dan merupakan hasil penelitian ketua penelitian ini dengan pendanaan nasional BIMA.
Pada pertemuan tersebut, Tita Ratna Wulan Dari, S.Pd., M.Pd., membekali siswa dengan teknik dasar pembuatan video podcast sekaligus memperhatikan aspek pelafalan dan penyampaian dalam bahasa Inggris. Siswa tidak hanya diarahkan untuk membaca naskah, tetapi juga belajar bagaimana suara, intonasi, ekspresi, dan pengucapan dapat membuat pesan yang mereka sampaikan lebih mudah dipahami.
“Podcast yang baik bukan hanya tentang apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana pesan itu disampaikan,” menjadi salah satu prinsip yang ditekankan dalam proses pelatihan.
Di sisi lain, Hasbi Thaufik Oktodila, M.Hum., mengajak siswa melihat video podcast dari sisi visual. Foto, gambar, dan potongan video bukan sekadar hiasan, tetapi dapat digunakan untuk memperkuat informasi yang sedang dibicarakan.
Dengan demikian, ketika siswa membahas sampah, suhu sekolah, penghijauan, atau persoalan banjir, mereka dapat menghadirkan visual yang membuat pendengar sekaligus penonton lebih mudah membayangkan persoalan tersebut.
Menariknya, proses produksi ini tetap menggunakan pendekatan Project-Based Learning. Setiap kelompok tidak hanya menerima materi, tetapi bekerja menuju sebuah produk nyata: video podcast bertema perubahan iklim.

Di dalam kelompok, siswa mulai menjalankan perannya masing-masing. Ada yang berkonsentrasi pada naskah, menjadi host, mempersiapkan visual, hingga memikirkan proses penyuntingan. Pembagian tugas tersebut membuat siswa belajar bahwa sebuah karya digital tidak lahir dari pekerjaan satu orang. Di sinilah keterampilan abad ke-21 mulai bekerja secara nyata: communication, collaboration, critical thinking, dan creativity.
Bagi sekolah, kegiatan semacam ini juga membuka ruang baru bagi pembelajaran. Isu perubahan iklim yang sering terasa jauh dan abstrak dapat dibawa ke lingkungan terdekat siswa—ke ruang kelas, kantin, halaman sekolah, tempat sampah, hingga kebiasaan sehari-hari. Sementara bagi siswa, podcast menjadi ruang untuk menyuarakan apa yang mereka lihat dan pikirkan. Mereka tidak hanya menjadi penonton isu perubahan iklim, tetapi mulai belajar menjadi pembuat pesan dan agen perubahan.
Kegiatan ini diikuti oleh Dr. Rita Inderawati, M.Pd., bersama seluruh tim PPM FKIP UNSRI serta para siswa SMAIT Raudhatul Ulum Sakatiga. Tahap produksi video tersebut sekaligus menjadi bagian penting dari rangkaian pembelajaran yang menghubungkan literasi digital dengan kepedulian terhadap lingkungan. Pada akhirnya, sebuah video podcast mungkin hanya berdurasi beberapa menit. Namun, proses di baliknya mengajarkan sesuatu yang jauh lebih panjang: bagaimana sebuah gagasan disusun, disuarakan, divisualisasikan, dikerjakan bersama, lalu dibagikan kepada masyarakat.
Dan dari sekolah, suara kecil tentang iklim itu mulai menemukan layarnya. SDGs 4, SDGs 13, SDGs 17








