(Puisi tentang bahaya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan)
by. Ridho Andi Sucipto
Pagi datang tanpa senyuman,
Mentari bersembunyi di balik kelabu,
Langit yang dahulu biru menawan,
Kini tersedak dalam napas yang pilu.
Kabut asap merayap bagai ular raksasa,
Melilit pepohonan, menelan cahaya,
Menyusup ke rumah, sekolah, dan desa,
Membawa ancaman bagi kehidupan manusia.
Udara menangis di antara dedaunan,
Pepohonan merintih menahan kepedihan,
Burung-burung kehilangan arah penerbangan,
Alam menjerit memohon pertolongan.
Asap membumbung setinggi gunung,
Mengubur cakrawala dalam selimut hitam,
Seolah seluruh dunia hendak runtuh,
Ditelan kobaran api yang kejam.
Oh, kabut asap! Engkau begitu perkasa,
Menutup matahari, merampas udara,
Membuat jutaan napas seakan tak berdaya,
Menjadikan siang segelap malam gulita.
Anak-anak terbatuk di ruang kelas,
Lansia terengah mengejar udara,
Paru-paru terbakar oleh perih yang ganas,
Sementara langit kehilangan warnanya.
Hutan yang hijau kini menjadi arang,
Tanah meratap dalam bara membara,
Satwa-satwa berlari tanpa tempat pulang,
Mencari kehidupan di tengah bencana.
Wahai manusia, dengarlah suara alam!
Jangan biarkan api menari di hutan,
Jangan biarkan keserakahan menjadi malam,
Yang memadamkan harapan dan masa depan.
Sebab bumi bukan sekadar tempat berpijak,
Ia rumah bagi seluruh kehidupan,
Jika hutan terbakar, masa depan pun retak,
Jika udara tercemar, siapa yang mampu bertahan?
Mari kita jaga hutan dengan kesadaran,
Hentikan pembakaran, cegah kehancuran,
Agar mentari kembali tersenyum di ufuk timur,
Agar udara bersih kembali mengalir,
Dan anak cucu dapat menghirup kehidupan,
Tanpa takut pada kabut yang menyelimuti zaman.








