Kepada Malam, Kutitipkan Air Mata

- Penulis

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:04 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Di antara riuh dunia yang berlari

aku terdiam memeluk sepi

menyimpan badai di dalam hati

Menyapu rasayang getir ini

 

Aku ingin bercerita kepada malam

tentang jiwa yang perlahan tenggelam

tentang air mata yang jatuh diam-diam

tentang hati yang lelah berpura-pura tenteram

 

Namun, kepada siapa harus kuutarakan segala resah?

Ketika dunia terlalu sibuk mengejar arah

tak ada telinga yang sudi singgah

tak ada bahu tempat rebah

hanya sunyi yang setia memeluk lelah

 

Aku adalah hujan yang kehilangan bumi

jatuh berkali-kali tanpa ada yang peduli

Aku adalah senja yang kehilangan mentari

meredup perlahan dalam kesendirian yang tak bertepi

 

Kadang, ingin rasanya berteriak pada langit

membiarkan segala luka pecah dan menjerit

Biar angin membawa kisah yang terhimpit

biar malam tahu betapa hati ini sakit

Baca Juga :  Banyuasin Terus Tingkatkan Produksi Padi Jadi Nomor Satu Di Indonesia, Optimis Bupati Banyuasin

 

Tetapi suaraku hanya menjadi bisikan

tertelan dinding-dinding kesunyian

Kata-kata yang kususun menjadi kepingan

berserakan bersama harapan yang kehilangan pegangan

 

Orang-orang melihatku baik-baik saja

seperti bunga yang mekar tanpa cela

Padahal akarku merintih di bawah tanah

meminum air mata yang tak pernah mereka jamah

 

Betapa melelahkan menjadi tempat pulang bagi banyak hati

ketika hatiku sendiri tak tahu ke mana harus pergi

Menjadi pendengar bagi segala cerita

namun tak memiliki siapa-siapa untuk mendengar luka

 

Aku ingin sekali berkata

“Dengarkan aku, meski hanya sebentar saja

Tak perlu memberiku nasihat atau berkata-kata

cukup duduk di sampingku, temani aku tanpa bertanya

 

Sebab terkadang, hati tak membutuhkan jawaban

Ia hanya ingin dipahami tanpa penjelasan

dipeluk tanpa harus meminta

dan diterima tanpa perlu berpura-pura bahagia

Baca Juga :  UKB Gelar PKKMB 2026, Dorong Mahasiswa Disiplin, Tekun dan Berdampak Bagi Indonesia

 

Kini, kubiarkan malam menjadi saksi

tempat segala keluh kusimpan sendiri

Kubiarkan bintang membaca air mata ini

meski esok pagi aku harus kembali tersenyum lagi

 

Jika suatu hari kau melihatku tertawa

jangan  mengira luka telah tiada

Sebab kesedihan menyamar menjadi canda

dan jiwa t’lah  retak di mana-mana

 

Aku hanya seseorang yang ingin didengar

bukan selalu dikuatkan

bukan terus diminta bersabar

Aku juga manusia yang bisa lelah dan gentar

yang sesekali ingin menangis tanpa harus tegar

 

Dan bila malam ini tak ada tempat untukku bercerita

biarlah puisi ini menjadi rumah bagi segala nestapa

Kutitipkan segala yang tak sanggup kuucapkan kepada aksara

agar setidaknya, di antara bait-baitnya

menjadi pelipur lara di dada

(By. Ridho Andi Sucipto)

Berita Terkait

Ketika Langit Menangis dalam Kabut Asap
UKB Gelar PKKMB 2026, Dorong Mahasiswa Disiplin, Tekun dan Berdampak Bagi Indonesia
Banyuasin Terus Tingkatkan Produksi Padi Jadi Nomor Satu Di Indonesia, Optimis Bupati Banyuasin
Cegah Penyalahgunaan Narkoba, Bupati Muba dan Seluruh Pejabat Jalani Tes Urine
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:04 WIB

Kepada Malam, Kutitipkan Air Mata

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:44 WIB

Ketika Langit Menangis dalam Kabut Asap

Jumat, 9 Oktober 2026 - 09:49 WIB

UKB Gelar PKKMB 2026, Dorong Mahasiswa Disiplin, Tekun dan Berdampak Bagi Indonesia

Rabu, 30 September 2026 - 23:26 WIB

Banyuasin Terus Tingkatkan Produksi Padi Jadi Nomor Satu Di Indonesia, Optimis Bupati Banyuasin

Kamis, 3 September 2026 - 22:53 WIB

Cegah Penyalahgunaan Narkoba, Bupati Muba dan Seluruh Pejabat Jalani Tes Urine

Berita Terbaru

Uncategorized

Kepada Malam, Kutitipkan Air Mata

Selasa, 20 Okt 2026 - 13:04 WIB