Di antara riuh dunia yang berlari
aku terdiam memeluk sepi
menyimpan badai di dalam hati
Menyapu rasayang getir ini
Aku ingin bercerita kepada malam
tentang jiwa yang perlahan tenggelam
tentang air mata yang jatuh diam-diam
tentang hati yang lelah berpura-pura tenteram
Namun, kepada siapa harus kuutarakan segala resah?
Ketika dunia terlalu sibuk mengejar arah
tak ada telinga yang sudi singgah
tak ada bahu tempat rebah
hanya sunyi yang setia memeluk lelah
Aku adalah hujan yang kehilangan bumi
jatuh berkali-kali tanpa ada yang peduli
Aku adalah senja yang kehilangan mentari
meredup perlahan dalam kesendirian yang tak bertepi
Kadang, ingin rasanya berteriak pada langit
membiarkan segala luka pecah dan menjerit
Biar angin membawa kisah yang terhimpit
biar malam tahu betapa hati ini sakit
Tetapi suaraku hanya menjadi bisikan
tertelan dinding-dinding kesunyian
Kata-kata yang kususun menjadi kepingan
berserakan bersama harapan yang kehilangan pegangan
Orang-orang melihatku baik-baik saja
seperti bunga yang mekar tanpa cela
Padahal akarku merintih di bawah tanah
meminum air mata yang tak pernah mereka jamah
Betapa melelahkan menjadi tempat pulang bagi banyak hati
ketika hatiku sendiri tak tahu ke mana harus pergi
Menjadi pendengar bagi segala cerita
namun tak memiliki siapa-siapa untuk mendengar luka
Aku ingin sekali berkata
“Dengarkan aku, meski hanya sebentar saja
Tak perlu memberiku nasihat atau berkata-kata
cukup duduk di sampingku, temani aku tanpa bertanya
Sebab terkadang, hati tak membutuhkan jawaban
Ia hanya ingin dipahami tanpa penjelasan
dipeluk tanpa harus meminta
dan diterima tanpa perlu berpura-pura bahagia
Kini, kubiarkan malam menjadi saksi
tempat segala keluh kusimpan sendiri
Kubiarkan bintang membaca air mata ini
meski esok pagi aku harus kembali tersenyum lagi
Jika suatu hari kau melihatku tertawa
jangan mengira luka telah tiada
Sebab kesedihan menyamar menjadi canda
dan jiwa t’lah retak di mana-mana
Aku hanya seseorang yang ingin didengar
bukan selalu dikuatkan
bukan terus diminta bersabar
Aku juga manusia yang bisa lelah dan gentar
yang sesekali ingin menangis tanpa harus tegar
Dan bila malam ini tak ada tempat untukku bercerita
biarlah puisi ini menjadi rumah bagi segala nestapa
Kutitipkan segala yang tak sanggup kuucapkan kepada aksara
agar setidaknya, di antara bait-baitnya
menjadi pelipur lara di dada
(By. Ridho Andi Sucipto)








